PLARIUSMODIFIKASI101

Hewan Yang Menjaga Anak di Punggungnya Dengan Cara Unik

Tuesday, April 30, 2019
Bagi hewan, memiliki keturunan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pola hidupnya. Pasalnya dengan memiliki keturunan, hewan tersebut bisa menjaga kelangsungan jenisnya sendiri. Masing-masing hewan memiliki caranya sendiri-sendiri dalam menjaga anak. Berikut ini adalah 5 contoh hewan yang menjaga telur serta anaknya dengan cara menggendong mereka di punggungnya:

Kodok Suriname (Pipa pipa)

Kodok Suriname

Kodok Suriname adalah nama dari sejenis kodok yang habitatnya berada di kolam dan rawa Amerika Selatan. Badannya berbentuk amat pipih dengan permukaan kulit yang amat kasar. Berkat penampilannya tersebut, kodok Suriname jadi sulit dibedakan dengan daun kering. Untuk membuat penyamarannya semakin meyakinkan, kodok Suriname amat jarang bergerak dan hanya sesekali muncul ke permukaan air untuk mengisi persediaan udaranya.

Kodok Suriname juga terkenal karena hewan ini memiliki cara yang tidak lazim untuk melindungi anak-anaknya. Sahabat anehdidunia.com saat melakukan perkawinan, kodok Suriname jantan akan membuahi telur-telur yang sudah dikeluarkan oleh betina dan menaruhnya di punggung betina. 

Pada saat itulah kemudian peristiwa yang menakjubkan terjadi. Sebuah lapisan tebal secara berangsur-angsur akan terbentuk di punggung betina. Lapisan tersebut kemudian akan menyelimuti telur-telur yang ada di atasnya. Akibatnya, punggung betina sekarang jika dilihat dari atas terlihat penuh dengan lubang yang berisi telur.



Keanehan lain dari kodok Suriname belum berhenti sampai di sana. Kodok ini tidak melalui fase berudu dalam siklus hidupnya dan telurnya langsung menetas dalam wujud bayi kodok kecil. Begitu sudah menetas, bayi kodok tersebut akan memanjat keluar dari punggungnya dan berenang bebas. Jika semua telurnya sudah menetas, lapisan di punggung kodok betina akan lepas supaya betina bisa kembali menggunakannya untuk mengerami telur generasi berikutnya.

Katak Panah Beracun (famili Dendrobatidae)

Katak Panah Beracun

Katak panah beracun merupakan contoh yang tepat dari peribahasa “kecil-kecil cabe rawit”. Pasalnya katak yang tubuh berwarna warni ini memiliki ukuran yang amat kecil. Panjangnya masih kalah jika dibandingkan ujung ibu jari orang dewasa. Meskipun kecil, jangan anggap remeh katak ini. Pasalnya katak ini memiliki racun yang amat kuat.

Jika racun katak ini sampai masuk ke dalam aliran darah manusia, maka manusia yang menjadi korbannya akan mengalami kejang-kejang sebelum kemudian meninggal. Oleh karena itulah, penduduk pribumi di Hutan Amazon Amerika Selatan memiliki kebiasaan mengoleskan ujung anak panah atau jarum sumpitnya dengan memakai racun katak ini. Dari sanalah katak ini kemudian mendapatkan julukan “katak panah beracun”.

Karena katak ini memiliki ukuran yang kecil, katak ini bisa menggunakan cekungan pada tanaman yang menempel di pohon sebagai tempatnya untuk menaruh telur. Sahabat anehdidunia.com saat musim hujan tiba,cekungan tersebut akan terisi oleh genangan air. Induk katak panah kemudian akan menggunakan cekungan tersebut untuk menaruh telurnya.

Sesudah beberapa hari, telur katak akan menetas menjadi berudu. Karena cekungan tadi tidak bisa menampung berudu yang ukurannya akan terus bertambah besar, maka berudu-berudu tersebut harus segera dipindahkan ke kolam lain yang ukurannya lebih besar. Pada saat inilah, katak panah beracun menunjukkan keunikannya yang lain.

Induk katak panah beracun akan menghasilkan cairan lendir yang lengket pada punggungnya. Berkat lendir ini, berudu bisa menempel pada punggung tanpa terjatuh ataupun menderita dehidrasi. Induk katak kemudian akan pergi sambil menggendong berudu di punggungnya hingga ia menemukan kolam yang cocok untuk dijadikan tempat tinggal baru anak-anaknya.

Kepik Air Raksasa (famili Belostomidae)



Kepik air raksasa adalah sejenis serangga berbentuk lonjong yang habitat utamanya berada di air tawar. Walaupun hidup di air, serangga ini sebenarnya tidak bisa bernapas di dalam air. Untuk mengakalinya, kepik air raksasa bisa menghisap udara melalui lubang di ujung ekornya dan kemudian menyimpannya di bawah sayapnya.

Karena secara sekilas kepik ini memiliki bentuk menyerupai daun, kepik air raksasa pun bisa memanfaatkan wujudnya untuk menyamar sambil mencari makan. Makanan kepik ini terdiri dari serangga air, berudu, dan ikan-ikan kecil. Sahabat anehdidunia.com untuk menangkap mangsanya, kepik ini memiliki kaki depan yang berbentuk melengkung layaknya kaki depan belalang sembah. Jika mangsanya sudah tertangkap, kepik ini akan menggunakan mulutnya yang tajam seperti jarum untuk menghisap cairan tubuh mangsanya.

Hal yang menarik dari kepik air raksasa adalah urusan menjaga anak ternyata dilakukan oleh kepik jantan. Sesudah melakukan perkawinan, kepik betina akan menaruh telur-telurnya di atas punggung kepik jantan. Tugas pejantan selanjutnya adalah menjaga telur-telur tersebut hingga menetas. 

Supaya telurnya bisa menetas, kepik jantan akan sering-sering muncul ke permukaan air supaya telurnya mendapatkan asupan oksigen yang cukup. Jika pejantan merasakan adanya bahaya, pejantan akan segera menyelam dan baru muncul kembali saat ia merasa kondisinya sudah aman. Sesudah beberapa hari, telur yang diangkut oleh pejantan akan menetas menjadi bayi kepik yang bentuknya menyerupai kepik dewasa, namun warnanya lebih terang.

Kalajengking (ordo Scorpiones)

Kalajengking ordo Scorpiones

Kalajengking adalah hewan yang mendengar namanya saja bakal membuat bulu kuduk siapapun. Wajar-wajar saja sebenarnya. Pasalnya hewan yang masih berkerabat dengan laba-laba ini memiliki ekor yang ujungnya beracun. Dengan racunnya itulah, kalajengking bisa mempertahankan diri sekaligus melumpuhkan hewan-hewan mangsanya. 

Makanan kalajengking terdiri dari serangga dan hewan-hewan kecil. Karena kalajengking memiliki penglihatan yang amat buruk, kalajengking berburu dengan merasakan getaran di sekitarnya. Jika kalajengking merasakan ada getaran yang ditimbulkan oleh mangsanya, kalajengking akan diam sejenak sebelum kemudian bergerak perlahan ke arah sumber getaran. Sesudah itu, barulah kalajengking akan menangkap mangsanya dan menyuntikkan racun dari ekornya.

Berkebalikan dengan penampilannya yang menyeramkan, kalajengking aslinya merupakan hewan yang sangat keibuan. Sahabat anehdidunia.com sesudah melakukan perkawinan, kalajengking betina akan menyimpan telur-telurnya di dalam tubuhnya hingga menetas. Bayi kalajengking kemudian akan beramai-ramai naik ke punggung induknya. Dengan cara ini, kalajengking betina bisa mencari makan sambil tetap menjaga keselamatan bayinya.

Laba-Laba Serigala (famili Lycosidae)

Laba-Laba Serigala (famili Lycosidae)

Laba-laba terkenal karena kebiasaannya membuat jaring untuk menangkap mangsanya. Namun hal tersebut tidak berlaku untuk laba-laba serigala. Pasalnya alih-alih membuat sarang dan menunggu mangsa yang terjerat, laba-laba serigala mencari makan dengan cara berkeliaran secara bebas. Berkat gerakannya yang cepat dan penglihatannya yang tajam, laba-laba ini bisa menangkap mangsanya dengan mudah.

Laba-laba serigala betina yang sudah melakukan perkawinan akan mengeluarkan telurnya di tempat yang aman. Setelah telurnya terkumpul cukup banyak, laba-laba betina kemudian akan memasukannya dalam semacam kantung yang terbuat dari jaring. Betina kemudian akan berpergian sambil menyeret kantung tersebut di ujung ekornya.

Sesudah beberapa hari, telur-telur yang ada di dalam kantung akan menetas menjadi bayi laba-laba yang jumlahnya banyak. Betina kembali menunjukkan kepeduliannya pada tahap ini. Ia akan menaikkan bayi-bayi tadi ke abdomen atau perutnya. Bayi-bayi tadi selanjutnya akan tetap tinggal menempel di abdomen induknya hingga ukurannya sudah agak besar dan sudah bisa mencari makan sendiri.

referensi:
https://news.nationalgeographic.com/2017/03/mating-insects-frogs-scorpions-babies-newborns/
https://animaldiversity.org/accounts/Pipa_pipa/
https://www.earthtouchnews.com/wtf/wtf/scorpion-babies-are-creepy-crawly-nightmare-cargo-only-a-mother-could-love/
https://www.livescience.com/41467-wolf-spider.html 
http://en.wikipedia.org/wiki/Giant_water_bug
http://en.wikipedia.org/wiki/Poison_dart_frog


close