PLARIUSMODIFIKASI101

Melawan Takdir, Eksperimen Modern Mustahil Namun Benar Nyata

Sunday, December 22, 2019
Di film-film fiksi ilmiah, kita seringkali menyaksikan penggunaan teknologi masa depan yang terkesan mustahil dan tidak akan pernah ada di dunia nyata. Namun kian majunya perkembangan zaman membuat ilmuwan kini sedikit demi sedikit mulai mencoba mewujudkan hal-hal yang sebelumnya hanya bisa muncul di dalam film fiksi ilmiah. Berikut ini adalah beberapa hal dari film fiksi ilmiah yang coba diwujudkan oleh manusia di dunia nyata.

Rahim Buatan

Rahim Buatan

Di film-film fiksi ilmiah, makhluk hidup yang lahir dari rahim buatan merupakan pemandangan yang cukup sering kita lihat. Namun di masa depan, rahim buatan macam itu bukan lagi hanya dapat kita temukan di film, tetapi juga di dunia nyata. Pasalnya ilmuwan ini tengah mengembangkan teknologi rahim buatan.

Rahim buatan ini sendiri sudah digunakan untuk membantu seekor bayi kambing yang lahir secara prematur supaya bisa tumbuh dengan normal. Rahim buatan ini nampak seperti kantung plastik besar yang dipenuhi kabel.

Ilmuwan berharap kalau di kemudian hari, rahim buatan ini juga bisa digunakan pada manusia. Tepatnya untuk menolong bayi-bayi yang lahir secara prematur supaya mereka tidak perlu mengalami hal-hal seperti gangguan pernapasan dan keterbelakangan mental. Sahabat anehdidunia.com teknologi ini juga bisa menjadi solusi bagi mereka yang tidak bisa memiliki keturunan biologis akibat steril.

Meskipun tujuan teknologi ini memang tergolong mulia, namun tidak sedikit yang khawatir kalau kelak teknologi ini malah bakal memiliki tujuan penggunaan yang melanggar norma. Wanita bisa memilih untuk lebih menggunakan rahim buatan alih-alih mengandung secara alamiah atas pertimbangan pekerjaan dan kenyamanan diri. Kalangan penyuka sesama jenis juga bisa jadi menggunakan rahim buatan supaya bisa memiliki keturunan biologis. 

Hewan yang Pikirannya Dikendalikan Manusia



Mouse adalah sebutan untuk perangkat komputer yang digunakan untuk menggerakkan kursor di layar monitor. Kata “mouse” sendiri dalam bahasa Inggris berarti “tikus” karena perangkat ini sepintas memang nampak seperti tikus. Namun tahukah anda kalau ilmuwan sekarang ini tengah melakukan penelitian mengenai tikus sungguhan yang bisa dikendalikan oleh manusia?

Pada tahun 2010, tim ilmuwan dari Universitas Negeri di New York mengumumkan kalau mereka sudah berhasil menemukan cara untuk mengendalikan hewan dari jauh. Menurut ilmuwan yang terlibat, penelitian ini bakal membantu manusia dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang terlalu sulit atau berbahaya jika harus dilakukan oleh manusia.

Tikus menjadi hewan yang dipilih untuk percobaan ini berkat ukurannya yang kecil. Untuk mengendalikan tikus, ilmuwan memasang perangkat khusus yang mengirim sinyal listrik ke otak tikus. Saat ilmuwan memasukkan perintah tertentu lewat komputer, perintah tadi kemudian diteruskan ke otak tikus melalui perangkat tadi. Dengan cara ini, ilmuwan bisa mengendalikan tikus tadi layaknya drone atau mainan radio kontrol.

Perangkat ini sendiri hanya bisa menangkap sinyal dengan radius maksimum 460 meter. Namun perangkat ini tetap dianggap revolusioner karena perangkat ini menunjukkan kalau manusia sudah bisa mengendalikan pikiran makhluk lain.

Pro kontra pun langsung bermunculan mengenai hasil penelitian ini karena dianggap tidak etis dan mencampuri kebebasan individu makhluk. Kekhawatiran lain dari penelitian ini adalah jika penelitian ini kemudian dikembangkan lebih jauh supaya bisa dipasang pada manusia, maka bukan tidak mungkin di masa depan pemerintah di negara-negara otoriter menggunakan perangkat ini supaya rakyatnya tidak bisa lagi membangkang.

Chimera Manusia



Dalam mitologi Yunani, chimera adalah makhluk yang tubuhnya nampak seperti hasil gabungan dari beberapa hewan. Istilah chimera kemudian diadopsi dalam ranah biologi untuk menyebut organisme yang selnya merupakan hasil kombinasi dari 2 spesies berbeda.

Kemajuan teknologi lantas mendorong manusia untuk menciptakan manusia chimera, alias manusia yang tercipta dari hasil kombinasi sel manusia dengan sel hewan. Untuk keperluan tersebut, ilmuwan menyuntikkan sel punca ke dalam embrio.

Ilmuwan sendiri berniat mengembangkan chimera manusia supaya manusia bisa memiliki cukup organ tubuh ketika ada manusia yang membutuhkan donasi organ. Meskipun begitu, karena konsep penelitian dari awal sudah kontroversial, kekhawatiran akan penyalahgunaan teknologi ini pun tetap muncul.

Sebagai contoh, jika ada manusia yang lahir dari konsep ini, seberapa miripkah chimera jika dibandingkan dengan manusia murni? Kemudian saat membaur di masyarakat, apakah chimera harus diperlakukan layaknya manusia biasa, atau harus diperlakukan sebagai spesies terpisah?

Penciptaan chimera juga dikhawatirkan bakal membawa dampak negatif bagi individu yang tercipta melalui proses ini. Pasalnya karena chimera merupakan konsep penelitian yang tergolong amat baru, masih belum diketahui apakah kelak chimera yang tercipta bakal memiliki hal-hal yang tidak dimiliki oleh manusia maupun hewan biasa.

Menghidupkan Spesies yang Sudah Punah



Manusia sudah sejak lama memiliki keinginan menghidupkan kembali spesies-spesies yang sudah punah. Seri film Jurassic Park menjadi contoh mengenai bagaimana manusia di film tersebut mencoba menghidupkan kembali dinosaurus di masa kini.

Mammoth alias gajah berbulu lebat menjadi hewan yang coba dihidupkan kembali oleh ilmuwan di masa kini. Untuk keperluan tersebut, mula-mula ilmuwan mencoba menciptakan rangkaian DNA mammoth. Jika tahap tersebut berhasil, bakal mammoth tadi kemudian akan disalurkan dalam tubuh gajah Asia betina supaya sang mammoth bisa berkembang dalam tubuh gajah hingga akhirnya benar-benar lahir.

Meskipun terlihat menjanjikan, ide untuk menghidupkan kembali spesies yang punah juga memunculkan kontroversi. Sahabat anehdidunia.com sebagai contoh, mammoth mengalami kepunahan massal akibat perubahan iklim yang terjadi di Bumi. Jika mammoth pada akhirnya bisa hidup kembali di masa kini, apa mereka bisa bertahan hidup mengingat Bumi sekarang memiliki iklim yang lebih hangat?

Pertimbangan lainnya adalah biaya untuk menghidupkan kembali spesies yang sudah punah sama sekali tidak sedikit dan belum tentu juga akan berhasil. Oleh karena itulah, muncul kritikan supaya biaya penelitian yang digunakan untuk proyek ini lebih baik digunakan untuk melindungi spesies-spesies yang masih hidup, namun sedang terancam kepunahan.

Memasang Kepala yang Terpisah dari Badan



Kita pastinya sudah sering mendengar cerita mistis mengenai hantu yang kepalanya bisa terbang sendiri, namun kemudian bisa tersambung kembali dengan badannya begitu kepala tersebut menempel pada badan. Namun bisakah hal tersebut diterapkan pada manusia?

Sergio Canavero adalah nama dari seorang ilmuwan yang melakukan penelitian pada tikus. Ia mengklaim kalau dirinya berhasil menyambung kembali kepala tikus yang sudah terpisah dari badannya dan membuat sistem syarafnya bereaksi. Sekarang ia dan para koleganya berencana melakukan penelitian serupa pada anjing.

Jika penelitian yang dilakukan oleh Canavero memang terbukti berhasil dan kemudian dikembangkan lebih jauh, wacana agar penelitian ini diterapkan pada manusia pun muncul. Namun kalaupun manusia pada akhirnya benar-benar bisa menyambung kepala yang masih hidup pada badan, masih ada masalah baru yang menunggu.

Karena tubuh yang menerima kepala menganggap kalau kepala tersebut adalah benda asing, tubuh pun secara naluriah mengaktifkan sistem kekebalannya sehingga orang yang bersangkutan akhirnya malah meninggal karena kepalanya diserang oleh sistem kekebalannya sendiri.

Tindakan sistem kekebalan tubuh tersebut memang bisa ditekan memakai obat khusus. Namun obat itu sendiri dalam jangka panjang juga memiliki efek samping yang berbahaya bagi tubuh. Misalnya perapuhan tulang (osteoporosis), meningkatnya gula darah, dan menurunnya kekuatan otot.

referensi:
https://www.youtube.com
https://listverse.com/2017/07/08/top-10-disturbing-modern-experiments/


close