PLARIUSMODIFIKASI101

Seperti Ini Bentuk Iklan Peradaban Zaman Kuno

Tuesday, March 24, 2020
Di era konsumerisme seperti sekarang, iklan bisa dipandang sebagai madu yang bercampur racun. Pasalnya dengan penyajian yang tepat, seseorang yang pada awalnya tidak berniat untuk membelanjakan uangnya bisa terpancing untuk mengeluarkan uangnya.

Iklan sendiri ternyata bukan hanya dapat ditemukan di masa kini. Di masa ribuan tahun yang lalu, iklan juga dapat ditemukan di sudut-sudut kota. Berikut ini adalah 5 contoh iklan yang berasal dari zaman kuno.

Rumah Bordil

Iklan Rumah Bordil Pompeii

Seks merupakan salah satu kebutuhan biologis manusia yang paling mendasar. Oleh karena itulah, profesi penjaja seks alias prostitusi dapat ditemukan sejak zaman dahulu. Di masa Romawi Kuno, kota Pompeii menjadi salah satu kota yang paling terkenal dengan bisnis prostitusinya.

Tidak seperti masyarakat di masa sekarang, masyarakat Romawi memiliki cara pandang yang lebih terbuka terhadap bisnis seks. Rumah-rumah bordil pada masa itu bisa mengiklankan jasanya secara bebas.

Bangunan Lupanare contohnya. Di dalam bangunan yang sengaja didirikan untuk bisnis prostitusi tersebut, terdapat 10 ruangan yang bisa digunakan oleh para konsumen untuk melampiaskan hasrat seksualnya. Pada dinding bangunan, terdapat lukisan-lukisan berisi iklan mengenai layanan seks apa saja yang disediakan oleh pengelola Lupanare.

Selain menggunakan dinding bangunannya sendiri sebagai cara untuk mempromosikan diri, para pekerja seks Romawi juga bisa memasang iklan berwujud lukisan dinding di jalanan kota. Di dalam iklan tersebut, mereka yang membacanya bakal menerima informasi mengenai ke mana ia harus pergi jika ia berminat menggunakan jasa sang penjaja seks serta harga layanan yang ditawarkan.

Budak yang Hilang

Iklan Budak Yang Hilang

Saat seseorang kehilangan hewan peliharaannya, salah satu cara yang kerap digunakan oleh majikan supaya hewannya bisa segera ditemukan adalah dengan menempelkan seleberan berisi gambar dan ciri-ciri hewan yang hilang. 

Di masa lampau kuno, informasi pencarian macam itu juga dapat ditemukan. Bedanya adalah biasanya pengumuman macam itu digunakan untuk mencari budak yang hilang. Pada masa itu, budak dianggap tidak ada bedanya dengan hewan peliharaan. Jadi ketika budaknya secara tiba-tiba menghilang, majikannya akan memasang iklan supaya budak miliknya bisa segera ditemukan.

Jika informasi hewan hilang di masa kini dibuat dengan memakai kertas, maka informasi budak hilang pada masa itu dibuat dengan memakai tulisan dinding. Selain mencantumkan ciri-ciri budak yang hilang, mereka yang membacanya juga akan dijanjikan imbalan beserta petunjuk mengenai ke mana ia harus melapor jika ia menemukan atau mengetahui keberadaan budak yang hilang.

Informasi budak hilang yang memakai media dinding digunakan oleh masyarakat Romawi. Kalau di Mesir Kuno, informasi budak hilang disebarkan dengan memakai daun papyrus. Dalam salah satu peninggalan papyrus yang ditemukan oleh arkeolog, penemu budak yang hilang diminta melaporkan temuannya ke barak tentara.

Tidak seperti hewan peliharaan yang nasibnya bakal berakhir bahagia jika berhasil kembali kepada majikannya, budak hilang yang ditemukan kembali biasanya justru akan disambut dengan siksaan dan hukuman berat karena dianggap mencoba membangkang dari majikannya.

Jarum

Iklan Jarum Jaman Dulu

Di masa kini, iklan yang menggunakan kertas sebagai medianya sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Namun di masa lampau, penggunaan kertas untuk media iklan masih sangat jarang dijumpai akibat masih belum majunya teknologi pengolahan kertas dan percetakan. Bangsa Cina Kuno menjadi pionir dalam penggunaan media kertas untuk keperluan iklan

Kurang lebih seribu tahun yang lalu, terdapat seorang penjual jarum yang bernama Jinan Liu. Supaya orang-orang tertarik untuk membeli jarumnya, ia pun menerbitkan iklan dengan tulisan sebagai berikut : “Kami membeli batang logam berkualitas tinggi dan membuat jarum berkualitas tinggi. Siap digunakan di rumah anda dalam sekejap.”

Selain mencantumkan berisi ajakan agar orang-orang membeli jarumnya, kertas iklan ini juga menampilkan lukisan kelinci yang sedang memegang jarum besar. Bisa dibilang kalau gambar kelinci tersebut adalah contoh maskot produk dari zaman kuno.

Guci

Guci Iklan

Guci peninggalan Yunani Kuno kerap dihiasi dengan gambar-gambar makhluk hidup berwarna merah atau hitam. Tujuannya adalah supaya ketika guci tersebut diputar atau dilihat dari sisi lain, sosok-sosok yang ada pada guci terlihat seolah-olah hidup dan bergerak sendiri.

Seperti halnya lukisan, pengrajin guci Yunani Kuno juga memiliki kebiasaan meninggalkan tanda tangan namanya sendiri pada guci hasil karyanya. Dengan begitu, ketika ada orang yang menyukai guci tersebut, ia jadi tahu siapa pembuatnya dan tahu harus membeli ke siapa saat ingin memiliki guci serupa. 

Namun terkadang meninggalkan nama saja tidak cukup untuk menarik minat orang-orang supaya tertarik untuk membeli hasil karya dari pengrajin yang bersangkutan. Hal itulah kemudian yang mendorong Euthymides untuk bertindak lebih jauh.

Bukannya sebatas membubuhkan namanya sendiri pada guci hasil karyanya, Euthymides juga menuliskan kalau guci buatannya jauh lebih baik dibandingkan semua guci buatan Euphronios. Metode promosi yang kalau di masa kini tidak ada bedanya dengan metode kampanye hitam.

Ada pula seniman yang lebih memilih untuk memakai metode yang lebih elegan dalam mempromosikan produknya. Di Museum Louvre, Perancis, terdapat sebuah peninggalan berupa guci Yunani Kuno bergambar 2 orang yang sedang menuntun kudanya. Di antara kedua orang tersebut, terdapat iklan bertuliskan “Belilah aku, anda akan mendapatkan harga yang murah”.

Politikus

Iklan politik Pompeii

Di Indonesia setiap kali musim pemilu tiba, jalanan akan penuh dengan selebaran dan umbul-umbul berisi ajakan supaya masyarakat memilih kandidat tertentu. Iklan macam itu ternyata bukan hanya dapat ditemukan. Di Romawi Kuno, iklan yang mempromosikan politikus juga kerap dijumpai.

Kota Pompeii menjadi contoh kota di mana iklan-iklan bertema politik mudah ditemui. Salah satunya karena kota ini dulunya terkubur di bawah timbunan abu gunung berapi, sehingga jejak-jejak peninggalan yang ada pada kota ini bisa terawetkan dan memberi informasi berharga bagi kita yang hidup di masa kini.

Tidak seperti kebanyakan negara pada masa itu yang berupa kerajaan berbasis garis keturunan, di Romawi orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan pemimpin Romawi bisa menempati posisi penting di parlemen jika dirinya mendapatkan cukup suara dari penduduk setempat.
Oleh karena itulah, orang-orang Romawi yang ingin menjadi bagian dari parlemen lantas giat mengiklankan dirinya sendiri supaya bisa meraih cukup suara. Sebagai cara untuk mempromosikan diri, tulisan berisi ajakan untuk memilih kandidat tertentu bertebaran di dinding-dinding kota.

Salah satu iklan politik yang pernah ditemukan oleh arkeolog menampilkan tulisan “Para tetangga memohon kepada anda untuk memilih Lucius Statius Receptus dengan kekuatan yudisial, sang tokoh yang benar-benar layak. Aemilius Celer yang menuliskan ini, seorang tetangga. Jika ada pencemburu yang menghancurkan (tulisan) ini, semoga dirimu jatuh sakit.”

Dalam iklan lain, terdapat tulisan yang menyatakan kalau para pekerja seks mengajak orang-orang untuk memilih kandidat tertentu. Namun iklan ini nampaknya lebih dimaksudkan untuk merendahkan kandidat yang namanya disebut dalam iklan, mengingat pekerja seks identik dengan sosok yang hina dalam masyarakat.

referensi:
http://theconversation.com/the-grim-reality-of-the-brothels-of-pompeii-88853
https://listverse.com/2017/09/24/10-amazingly-ancient-advertisements/


close