PLARIUSMODIFIKASI101

Wabah Yang Pernah Menyerang Indonesia Selain Corona Covid-19

Monday, June 22, 2020
Hingga saat ini, negara Indonesia maupun negara lain yang ada di dunia sedang disibukkan dengan adanya wabah sebuah virus yang bernama Corona atau biasa disebut dengan nama Covid-19. Virus tersebut mampu menyerang siapa saja, bahkan sampai meninggal dunia jika tak ditangani dengan cepat. Sudah banyak korban berjatuhan akibat virus tersebut, sekitar jutaan orang di seluruh dunia. Indonesia sendiri, terhitung ada sekitar 30 ribu orang yang positif terkena virus tersebut, sementara yang berhasil sembuh sekitar 15 ribuan orang.

Bicara soal wabah, ternyata di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, pernah juga terjadi wabah penyakit yang tak kalah merepotkan dengan virus Corona ini. Pasalnya, wabah ini terjadi pada masa lalu, di mana teknologi medis masih belum secanggih sekarang, sehingga untuk melakukan pengobatan pada wabah tersebut masih belum ditemukan. Akibatnya, ketika terkena wabah ini, timbul banyak korban jiwa karena belum ditemukan vaksinnya, sama seperti sekarang ini, di mana virus Corona masih belum bisa ditemukan vaksinnya.

Lalu, apa saja wabah penyakit yang pernah melanda Indonesia, khususnya di Pulau Jawa? Berikut ini beberapa wabah penyakitnya.

Cacar
Wabah Cacar
Wabah cacar via grid.id
Mendengar penyakit cacar pada saat ini, mungkin terdengar remeh atau tak mematikan, karena sekarang sudah ada vaksin untuk cacar, sehingga kalau pun ada yang sakit cacar, maka bisa disembuhkan dengan vaksin tersebut. Namun pada zaman dahulu kala, penyakit cacar merupakan penyakit mematikan, dan belum ditemukan vaksin untuk bisa mencegah atau mengobati penyakit cacar.

Penyakit cacar diduga berasal dari Mesir pada tahun 10.000 SM, dan penyakit itu dibawa oleh saudagar Mesir yang melakukan perdagangan ke seluruh dunia. Akhirnya, penyakit ini ‘sukses’ tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sahabat anehdidunia.com karena penyakit ini tersebar di Indonesia pada zaman kerajaan, tepatnya kerajaan Hindu-Buddha, yang pada saat itu ilmu kedokterannya masih belum seperti sekarang, maka siapa pun yang terkena penyakit cacar dianggap terkena kutukan, atau terkena gangguan roh halus. Akibatnya, penderita cacar diusir dari desa dan kemudian meninggal dunia karena tak mendapatkan penanganan dengan baik.

Diketahui, cacar masuk Batavia pada tahun 1644, dan dengan cepat menyebar ke berbagai daerah. Kemudian, cacar menyebar ke wilayah Bogor, Banten, hingga Semarang bahkan Lampung. Tahun 1781, terhitung ada 100 orang yang terkena penyakit cacar, dan 20 orang di antaranya meninggal dunia. Tahun 1820-an, sekitar 10 persen bayi yang lahir di Yogyakarta meninggal dunia akibat cacar ini. Tahun 1871, korban semakin banyak, terutama di wilayah Bali, yang korban jiwanya mencapai 18 ribu orang.

Malaria
tanah abang tahun 1900
Tanah Abang tahun 1900 via republika.co.id
Selain cacar, penyakit lain yang pernah mewabah di Indonesia adalah penyakit malaria. Wabah ini mulai muncul di Batavia pada tahun 1622, dikarenakan kota Batavia pada saat itu dalam kondisi yang sangat tak terawat, seperti misalnya tanggul yang penuh dengan lumpur. Akibatnya, banyak nyamuk malaria yang berkembang biak dan mendiami Batavia, dan akhirnya memakan banyak korban dari gigitan nyamuk malaria tersebut.

Orang yang terkena penyakit ini, kemudian berbondong-bondong ke rumah sakit yang terdekat dengan rumah mereka. Sayangnya, bukannya sembuh, mereka yang datang ke rumah sakit justru meninggal dunia. Tak heran, rumah sakit di Batavia pada saat itu mendapat julukan De Moordkuil atau bahasa Indonesianya yaitu lubang kubur. Tingkat kematian yang tinggi membuat Batavia pada abad ke-18 dinobatkan sebagai kota paling tak sehat di dunia.

Diketahui, korban paling banyak dari wabah malaria ini adalah orang Eropa yang merupakan pegawai VOC. Bahkan, terjadi lonjakan cukup drastis terkait korban wabah malaria ini. Menurut Robert Bwire, penulis buku berjudul Bugs in Armor: A Tale of Malaria and Soldiering, sebelum tahun 1733, korban orang Eropa yang tewas kurang dari 10 persen. Namun, setelah tahun 1733, korban tewas melonjak hingga 40 sampai 50 persen.

Kolera
vaksinasi kolera pertama di Indonesia via historia.id
Batavia juga pernah mengalami wabah lainnya selain malaria, yaitu kolera. Wabah ini terjadi pada abad ke-19 di Batavia. Awal mula kolera bisa mewabah di Batavia adalah saat Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels memindahkan pusat pemerintahan ke tempat yang baru. Tadinya, pusat pemerintahan berada di Oud Batavia (kini kawasan Kota Tua), lalu dipindahkan ke Nieuw Batavia Weltevreden, yang kini merupakan wilayah sekitar Lapangan Banteng.

Pemindahan itu dilakukan karena Oud Batavia atau Batavia Lama pada saat itu dianggap sebagai sarang penyakit, sehingga diharapkan pemindahan itu bisa mencegah penyakit lebih banyak lagi karena persediaan air di tempat yang baru terbilang lebih baik. Sahabat anehdidunia.com meski demikian, tetap saja warga Batavia, termasuk orang-orang Eropa, seperti halnya malaria, banyak yang terserang kolera. Hal itu dikarenakan masih minimnya pengetahuan mereka tentang penyakit dan juga tak tersedianya obat kolera yang pada saat itu masih belum ditemukan.

Mirip seperti malaria, penyakit kolera, atau orang Indonesia menyebutnya sebagai penyakit muntaber, disebabkan karena lingkungan yang kotor, ditambah dengan sanitasi yang buruk, yang mana memang menggambarkan kondisi Batavia pada saat itu. Zaman dulu, rumah-rumah di Batavia ternyata tak memiliki kamar mandi atau kakus, sehingga kotoran mengalir langsung ke kanal-kanal. Ditambah lagi, saat itu kanal juga menjadi lokasi pembuangan limbah pabrik penyulingan arak, serta penggilingan tebu. Pada tahun 1821, kira-kira sehari ada 160 orang tewas karena kolera ini.

Pes
Wabah Pes pulau Jawa via republika.id
Wabah berikutnya yang pernah terjadi di Indonesia sebelum wabah Corona adalah wabah pes. Wabah pes ini sebelumnya sempat menyebar di Eropa, dan akhirnya tersebar juga di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Wabah pes menyerang Eropa sekitar abad 14, dan kemudian menyusul ke Indonesia pada awal abad 20.

Meski kini memang sudah jarang orang yang terkena penyakit pes, namun pada masanya penyakit pes adalah penyakit yang mematikan. Terbukti, penyakit ini sempat membuat sekitar 60 persen populasi Eropa meninggal dunia. Tak heran, jika penyakit ini di Eropa dikenal dengan nama Black Death, saking tingginya tingkat kematian yang disebabkan oleh penyakit tersebut.

Penyakit pes ini akan menyebabkan jaringan yang ada di dalam tubuh manusia, terutama di ujung jari tangan dan kaki, sampai warnanya menghitam. Selain menghitam, gejala lain dari penyakit ini adalah pendarahan, diare, muntah, sampai demam. Bahkan, ada juga penderita yang meninggal duluan sebelum gejalanya timbul. Intinya, penyakit pes ini menyerang aliran darah, yang bisa menyebabkan penderitanya sesak napas, demam, sampai lemas.

Zaman dulu, tak ada yang tahu dari mana penyakit pes ini muncul. Setelah dunia kedokteran mulai maju, mulailah dilakukan penelitian untuk mencari asal usul penyakit ini, dan berhasil. Rupanya, penyakit ini berasal dari bakteri yang terdapat di kutu tikus. Tak heran jika penyakit ini mewabah, mengingat populasi tikus di Eropa pada masa itu cukup banyak.

Itulah beberapa contoh wabah yang pernah melanda Indonesia sebelum terjadinya pandemi virus Corona atau Covid-19 sekarang ini. Rupanya, zaman dulu di Indonesia sudah pernah terjadi wabah penyakit yang tak kalah merepotkan, bahkan tak kalah mematikan dibandingkan dengan Covid-19. Hal itu dikarenakan pada zaman dulu ilmu kedokteran masih belum berkembang seperti sekarang. 

Semoga saja untuk tahun-tahun ke depan tak akan ada lagi wabah penyakit semacam ini, yang bisa merugikan banyak orang dan membuat segala aktivitas jadi terhenti, bahkan bisa membuat seseorang kehilangan pekerjaannya. Jika penyakit zaman dulu saja sudah bisa ditemukan obat atau vaksinnya, maka kita harus optimis kalau penyakit Corona ini juga akan ditemukan vaksinnya, entah cepat atau lambat.

Sumber:
https://voi.id/memori/2205/jauh-sebelum-virus-corona-ada-wabah-cacar-yang-ditakuti-umat-manusia
https://voi.id/memori/5128/berubahnya-wajah-batavia-akibat-malaria
https://voi.id/memori/5078/gagap-hadapi-wabah-sejak-kolera
https://historia.id/sains/articles/biang-kerok-di-balik-wabah-pes-Dpggo



close