PLARIUSMODIFIKASI101

Hal yang Bakal Terjadi Jika Planet Bumi Memiliki Cincin Mirip Saturnus

Thursday, October 29, 2020

Tata Surya terdiri dari beberapa planet dengan ukuran dan karakteristik yang berbeda-beda satu sama lain. Ada planet yang memiliki cincin, namun ada juga yang tidak. Saturnus adalah contoh dari planet bercincin yang paling terkenal berkat ukuran cincinnya yang besar.

Bumi sendiri tergolong sebagai planet yang tidak memiliki cincin. Lantas, bagaimana jadinya jika Bumi sampai bisa memiliki cincinnya sendiri? Berikut ini adalah hal-hal yang mungkin bakal terjadi jika Bumi sampai memiliki cincin.

Langit Bakal Nampak Lebih Ramai

Langit Bakal Nampak Lebih Ramai
Langit Bakal Nampak Lebih Rama via livescience.com

Dengan adanya cincin yang mengorbit di sekeliling Bumi, maka sudah bisa diduga kalau pemandangan di langit bakal nampak lebih ramai. Menariknya, cincin Bumi kelak bukan hanya dapat dilihat pada malam hari, tetapi juga pada siang hari. 

Pasalnya material-material yang menyusun cincin bakal ikut memantulkan sinar Matahari. Kurang lebih seperti Bulan yang bisa terlihat dari Bumi karena permukaan Bulan memantulkan cahaya Matahari.

Cincin yang menyusun Saturnus diketahui terdiri dari bebatuan dan bongkahan es. Jika Bumi kelak benar-benar memiliki cincinnya sendiri, maka material penyusun cincin Bumi hanya akan terdiri dari bebatuan. Karena jarak Bumi ke Matahari lebih dekat dibandingkan jarak Saturnus ke Matahari, bongkahan es yang ada di sekeliling Bumi bakal langsung meleleh.

Cincin Bumi diperkirakan kelak akan mengorbit di sekeliling bagian khatulistiwa. Oleh karena itulah, cincin yang dilihat dari Bumi bakal memiliki penampakan yang berbeda-beda bergantung dari lokasi orang yang melihatnya.

Mereka yang tinggal di khatulistiwa akan melihat sebagai garis terang yang nampak membelah langit. Untuk mereka yang tinggal di kawasan Kutub, cincin bakal nampak seperti kubah bercahaya. Mereka yang tinggal di kawasan subtropis bakal melihat cincin layaknya busur raksasa yang bercahaya.

Benda-benda langit seperti Matahari dan Bulan posisinya nampak berubah-ubah sebagai akibat dari rotasi Bumi. Namun karena cincin selalu berada di sekeliling khatulistiwa, maka posisi cincin pada siang maupun malam tidak akan mengalami perubahan. Yang berubah mungkin hanyalah tingkat kecerahan cincin karena menyesuaikan dengan intensitas cahaya yang diterimanya dari Matahari.

Manusia dan Hewan Bakal Mengandalkan Cincin sebagai Alat Navigasi

Manusia dan Hewan Bakal Mengandalkan Cincin sebagai Alat Navigasi
Manusia dan Hewan Mengandalkan Cincin sebagai Alat Navigasi via makassarinside.com

Saat teknologi navigasi masih belum semaju sekarang, manusia mengandalkan benda-benda langit sebagai cara untuk mengetahui posisi mereka saat melakukan perjalanan jauh. 

Sebagai contoh, dengan melihat arah terbit dan tenggelamnya Matahari, manusia bisa tahu posisi mata angin barat dan timur. Kalaupun hari sedang gelap, manusia masih bisa mengetahui posisi mata angin dengan melihat rasi bintang di angkasa.

Metode navigasi macam ini bukan hanya digunakan oleh manusia, tetapi juga oleh burung. Itulah sebabnya burung yang melakukan migrasi tidak pernah sampai tersesat. Selain dengan mengamati posisi benda langit, burung juga bisa terbang jauh tanpa tersesat karena burung bisa mengindra medan magnet Bumi.

Jika Bumi sampai memiliki cincin, maka sudah barang tentu keberadaan cincin tersebut bakal dimanfaatkan oleh makhluk hidup di bawahnya sebagai panduan dalam bernavigasi. Sebagai contoh, mereka yang tinggal di belahan bumi selatan bisa mengetahui posisi mata angin utara hanya dengan melihat posisi cincin. Keberadaan cincin diduga juga bakal turut mempengaruhi karakteristik medan magnet Bumi.

Akan Muncul Banyak Dongeng dan Legenda Mengenai Cincin Bumi

Dongeng dan Legenda Mengenai Cincin Bumi
Dongeng dan Legenda Mengenai Cincin Bumi via idntimes.com

Setiap tempat di Bumi memiliki legendanya masing-masing mengenai benda langit. Sebagai contoh, bangsa Jepang meyakini kalau Bulan dihuni oleh makhluk menyerupai kelinci. Bangsa Cina Kuno percaya kalau gerhana Matahari terjadi akibat ada monster yang memakan Matahari. Suku Aztek di Meksiko percaya kalau Matahari harus diberi makan jantung manusia supaya bisa tetap bersinar.

Jika Bumi memiliki cincinnya sendiri, maka sudah barang tentu penduduk di masa lampau memiliki dongeng dan legendanya sendiri mengenai cincin. Sahabat anehdidunia.com sebagai contoh, karena cincin Bumi diperkirakan nampak seperti garis bercahaya yang tidak putus-putus, mungkin bakal ada dongeng yang menampilkan cincin Bumi sebagai jembatan ke dunia lain.

Pada malam hari, Bulan dan cincin bakal nampak sebagai benda langit yang posisinya berdekatan namun terpisah. Dengan melihat hal tersebut, maka mungkin bakal ada dongeng yang mengisahkan Bulan sebagai sosok yang dulunya hidup di cincin Bumi, namun kemudian diasingkan sehingga nampak mengembara sendirian di langit malam.

Saat posisi Matahari sedang terhalang oleh cincin Bumi, pantulan yang ditimbulkan oleh cincin Bumi diperkirakan bakal menghasilkan fenomena baru semisal langit yang nampak dipenuhi kabut bercahaya. Karena fenomena tersebut hanya muncul pada waktu-waktu tertentu, bakal ada golongan masyarakat yang mengaitkan fenomena kabut bercahaya sebagai pertanda kalau peristiwa besar bakal segera muncul.

Hal-hal yang sudah disebutkan tadi baru sebagian di antaranya. Singkatnya, keberadaan cincin Bumi akan melahirkan begitu banyak dongeng dan legenda dari berbagai macam kebudayaan.

Cincin Membuat Pekerjaan Astronom Menjadi Lebih Sulit

Dongeng dan Legenda Mengenai Cincin Bumi
Dongeng dan Legenda Mengenai Cincin Bumi via idntimes.com

Bagi kalangan pengamat bintang, langit malam yang bebas dari awan dan polusi cahaya merupakan kondisi yang bakal senantiasa mereka dambakan. Alasannya tidak lain karena langit dalam kondisi demikian bakal membuat benda-benda langit jadi lebih mudah diamati lewat teleskop.

Jika Bumi benar-benar memiliki cincin, maka aktivitas pengamatan bintang menjadi lebih sulit dilakukan karena cincin tersebut menghalangi benda-benda langit yang hendak diamati. Bahkan kalaupun benda langit yang hendak diamati posisinya jauh dari cincin, cahaya yang dipantulkan oleh cincin bakal mempersulit upaya manusia dalam mengamati benda langit yang cahayanya redup.

Dengan melihat hal tersebut, maka perkembangan ilmu astronomi mungkin bakal menjadi lebih terlambat dan tidak semaju sekarang. Kalaupun manusia sudah menemukan cara untuk meluncurkan satelit ke luar angkasa, manusia masih harus memastikan supaya satelit tersebut tidak sampai menabrak cincin ataupun terkena serpihan batuan yang lepas dari cincin.

Efektifitas satelit di luar Bumi juga amat ditentukan oleh jarak antara cincin dengan Bumi. Jika cincin dan atmosfer memiliki jarak yang cukup dekat, maka komunikasi antar satelit dengan stasiun pemancar di Bumi bakal lebih sulit dilakukan. Sinyal yang dipancarkan oleh satelit maupun stasiun bakal terusik oleh cincin.

Bumi Bakal Lebih Sering Dihujani Meteor

hujan meteor
hujan meteor via cnnindonesia.com

Berkat keberadaan atmosfer, benda-benda langit yang tidak sengaja tertarik oleh gravitasi Bumi bakal terbakar lebih dulu di atmosfer sebelum menghantam permukaan Bumi. Itulah sebabnya Bulan memiliki permukaan yang penuh dengan kawah. Karena Bulan tidak memiliki atmosfer, benda langit yang menghantam permukaan Bulan bakal langsung menimbulkan dentuman besar dan meninggalkan bekas kawah.

Jika Bumi sampai memiliki cincin, maka jumlah meteor yang menuju Bumi bakal bertambah banyak. Karena cincin pada dasarnya adalah bongkahan-bongkahan batu yang berputar di sekeliling Bumi, selalu ada peluang kalau bongkahan batu tersebut nantinya ada yang bergeser keluar dari orbitnya.

Akibat tertarik oleh gravitasi Bumi, bongkahan batu tadi akan masuk ke atmosfer Bumi dan terbakar. Jika ukurannya cukup besar, bongkahan tersebut bisa jatuh mengahntam permukaan Bumi dan kemudian menimbulkan efek ledakan besar.

Kalau menurut astronom sendiri, selama Bumi masih memiliki Bulan, maka cincin yang dimiliki oleh Bumi tidak akan bertahan lama. Secara teoritis, cincin bakal terbentuk ketika ada benda kecil yang tertarik oleh gravitasi Bumi, namun kemudian tertahan pada jarak tertentu.

Jika ada Bulan di dekatnya, maka benda kecil tersebut bakal tertarik oleh gravitasi Bulan dan kemudian jatuh menghantam permukaan Bulan. Bisa dibilang kalau Bulan berfungsi sebagai tameng yang senantiasa melindungi Bumi dari ancaman benda-benda langit yang kebetulan melintas.

Sumber :

https://www.livescience.com/what-if-earth-had-rings.html

https://www.sciencealert.com/birds-see-magnetic-fields-cryptochrome-cry4-photoreceptor-2018



close