Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Unik di Balik Dihapusnya Sistem Perbudakan di Negara-Negara Barat

Anehdidunia.com - Di masa kini setiap manusia dipandang memiliki hak yang setara. Itulah sebabnya di masa kini, praktik perbudakan sudah tidak lagi dijumpai. Namun lain halnya jika kita mundur ke masa berabad-abad yang lalu. Pada masa itu, perbudakan dianggap sebagai hal yang sangat lumrah.

Namun seiring perkembangan zaman, perbudakan secara perlahan-lahan ditinggalkan karena dianggap tidak manusiawi. Namun upaya untuk menghapus perbudakan sendiri tidak berlangsung tanpa halangan. Berikut ini adalah 5 kisah unik di balik penghapusan sistem perbudakan di negara-negara Barat.

Sesudah Melarang Perbudakan, Pemerintah Inggris Harus Membayar Ganti Rugi Kepada Para Majikan Budak

Sesudah Melarang Perbudakan, Pemerintah Inggris Harus Membayar Ganti Rugi Kepada Para Majikan Budak
Sesudah Melarang Perbudakan, Pemerintah Inggris Harus Membayar Ganti Rugi Kepada Para Majikan Budak via anakanakbumi.org

Pada tahun 1833, pemerintah Inggris secara resmi melarang praktik perbudakan. Larangan ini bukan hanya berlaku untuk wilayah inti Inggris yang terletak di Eropa, tetapi juga di daerah-daerah jajahan Inggris di benua lain.

Keputusan Inggris untuk menghapuskan perbudakan tidak lepas dari semakin menguatnya gerakan anti perbudakanndi Eropa. Namun upaya Inggris untuk menghapus perbudakan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Pasalnya bagi para majikan, budak tidak ada bedanya dengan harta milik mereka yang amat berharga.

Atas sebab itulah, supaya para majikan budak bersedia membebaskan budak yang dimilikinya, pemerintah Inggria menawarkan uang ganti rugi kepada majikan budak.

Jumlah total uang yang dikeluarkan oleh pemerintah Inggris untuk membebaskan para budak mencapai 20 juta poundsterling. Jumlah tersebut sangatlah banyak untuk ukuran masa itu karen mencapai hampir separuh pemasukan tahunan mereka.

Akibat begitu besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah Inggris untuk membebaskan para budak, pemerintah Inggris membayar ganti rugi dengan cara mencicil. Hingga tahun 2015, pemerintah Inggris dikabarkan masih membayar cicilan ganti rugi kepada para bekas majikan budak dan keturunannya.

Perbudakan di Haiti Berakhir Akibat Meletusnya Pemberontakan Para Budak

Perbudakan di Haiti Berakhir Akibat Meletusnya Pemberontakan Para Budak
Perbudakan di Haiti Berakhir Akibat Meletusnya Pemberontakan Para Budak via wikipedia.org

Haiti adalah negara kecil yang terletak di bagian barat Pulau Hispaniola, pulau yang letaknya berada di sebelah tenggara Amerika Serikat. Haiti memiliki komposisi penduduk yang unik karena meskipun wilayahnya terletak di kawasan Amerika, mayoritas penduduk Haiti justru berkulit hitam layaknya penduduk asli Afrika.

Fenomena tersebut ternyata bukanlah kebetulan semata. Penduduk Haiti umumnya berkulit hitam karena mereka dulunya adalah budak-budak asal Afrika yang sengaja didatangkan oleh Perancis untuk bekerja di Haiti.

Per tahun 1789, jumlah budak yang ada di Haiti dikabarkan mencapai hampir 500.000 jiwa. Jika dibandingkan dengan penduduk kulit putih di Haiti, jumlah budak kulit hitam jauh melampaui populasi orang kulit putih dengan perbandingan10 : 1.

Perancis selaku negara penjajah Haiti sendiri pada waktu itu sedang dilanda kekacauan akibat gonjang ganjing Revolusi Perancis. Saat kabar mengenai revolusi akhirnya sampai ke Haiti, budak-budak kulit hitam setempat pun merasa terinspirasi untuk memulai revolusi versi mereka.

Bulan Oktober 1790, revolusi yang dimaksud akhirnya dimulai. Awalnya hanya ada 350 penduduk kulit hitam Haiti yang memberontak, namun lama kelamaan jumlahnya semakin banyak.

Perancia mencoba meredam pemberontakan dengan cara mengirim pasukan bala bantuan ke Haiti. Namun karena pasukan Perancis tidak terbiasa dengan iklim tropis Haiti, banyak tentara Perancis yang jatuh sakit.

Sekitar 14 tahun sesudah dimulainya pemberontakan, Perancis terpaksa membiarkan Haiti merdeka. Berkat keberhasilan ini, orang-orang kulit hitam Haiti kini tidak lagi menjadi budak.

Perbudakan di Meksiko Berakhir Saat Meksiko Dipimpin oleh Presiden Kulit Hitam

Perbudakan di Meksiko Berakhir Saat Meksiko Dipimpin oleh Presiden Kulit Hitam
Perbudakan di Meksiko Berakhir Saat Meksiko Dipimpin oleh Presiden Kulit Hitam via mexicodailypost.com

Tahun 2008 merupakan tahun yang amat bersejarah bagi Amerika Serikat. Pasalnya di tahun itulah, untuk pertama kalinya Amerika dipimpin oleh presiden kulit hitam. Sosok presiden kulit hitam yang dimaksud di sini tidak lain adalah Barrack Obama.

Jauh sebelum Amerika Serikat dipimpin oleh presiden kulit hitam, Meksiko yang bertetangga dengan Amerika ternyata sudah lebih dulu dipimpin oleh presiden kulit hitam.

Pada tahun 1829 hingga 1831, Meksiko dipimpin oleh presiden Vicente Guerrero. Guerrero sendiri sebenarnya bukanlah murni orang kulit hitam karena ia lahir dari pasangan kulit hitam keturunan Afrika dan Mestizo (golongan darah campuran). Namun hal tersebut sudah cukup membuat Guerrero dipandang bak golongan kulit hitam oleh golongan elit Meksiko yang didominasi oleh kulit putih.

Begitu mulai menjabat sebagai presiden, Guerrero langsung bertindak cepat untuk menghapuskan perbudakan. Hasilnya, perbudakan resmi dilarang di Meksiko hanya sekitar 5 bulan sejak Guerrero mulai menjabat.

Tindakan Guerrero menghapuskan perbudakan ganti menuai rasa tidak suka dari para pemilik budak, khususnya yang bermukim di wilayah Texas. Supaya mereka tetap bisa menjalankan perbudakan, wilayah Texas pun kemudian nekat melepaskan diri dari Meksiko. Texas sesudah itu nantinya bergabung dengan Amerika Serikat.

Guerrero sendiri pada akhirnya bernasib malang setelah ia diturunkan paksa dari jabatannya sebelum kemudian dihukum mati. Meskipun Guerrero harus kehilangan nyawanya, ia tetap dikenang sebagai sosok yang berjasa besar dalam menghapuskan sistem perbudakan di Meksiko.

Brazil Adalah Negara Pengimpor Budak Terbesar di Amerika

Brazil Adalah Negara Pengimpor Budak Terbesar di Amerika
Brazil Adalah Negara Pengimpor Budak Terbesar di Amerika via sindonews.com

Jika bicara soal perbudakan di Benua Amerika, maka orang umumnya bakal langsung membayangkan soal perbudakan yang dilakukan oleh Amerika Serikat.

Faktanya adalah kendati Amerika Serikat di masa lampau memang benar-benar mempraktikkan perbudakan, sebenarnya Amerika Serikat bukanlah negara dengan angka perbudakan tertinggi di Benua Amerika.

Predikat tersebut dipegang oleh Brazil. negara terbesar di Amerika Selatan. Dari sekian banyak orang-orang kulit hitam Afrika yang dikirim ke Benua Amerika untuk dijadikan budak, hanya sebanyak 4 persen di antaranya yang pergi ke Amerika Serikat.

Sebanyak 32 persen budak kulit hitam asal Afrika dikirim ke Brazil. Jumlah mereka kurang lebih mencapai 4 juta jiwa. Atas sebab itulah, di masa kini kita bakal cukup sering menjumpai orang-orang Brazil yang berkulit hitam.

Selain karena Brazil wilayahnya lebih luas dibandingkan Amerika Serikat, alasan lain kenapa Brazil bisa mengimpor begitu banyak budak kulit hitam adalah karena Brazil merupakan negara Ameriks yang paling terakhir menghapuskan perbudakan.

Praktik perbudakan di Brazil baru dihapuskan pada tahun 1888. Kebijakan Brazil untuk menghapus perbudakan tidak lepas dari kondisi sosial pada masa itu yang sudah jauh berubah. Saat Brazil resmi melarang perbudakan, sebagian besar orang kulit hitam Brazil sudah dibebaskan oleh majikannya secara sukarela.

Orang Kulit Putih Juga Ada yang Dijadikan Budak

Orang Kulit Putih Juga Ada yang Dijadikan Budak
Orang Kulit Putih Juga Ada yang Dijadikan Budak via yoursay-suara.com

Jika bicara soal praktik perbudakan di negara-negara Barat, maka orang unumnya hanya tahu kalau orang kulit hitam yang dijadikan budak. Padahal kenyataannya, orang kulit putih pun juga ada yang dijadikan budak.

Sepanjang abad ke-16 hingga 19, para bajak laut Berber kerap melakukan penyerangan ke pantai selatan Eropa di Laut Mediterania. Orang-orang kulit putih Eropa yang berhasil ditangkap kemudian dijual sebagai budak ke Ottoman dan Afrika Utara.

Akibat seringnya para perompak Berber melakukan penyerangan dan penculikan, mereka pun berulang kali terlibat perang melawan angkatan laut Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Praktik penculikan budak yang dilakukan oleh suku Berber baru berhenti setelah Ottoman sepakat untuk berhenti membeli budak dari Eropa pada tahun 1890.

Di luar Eropa, Australia juga bisa digambarkan sebagai tanahnya budak-budak kulit putih. Pasalnya Inggris awalnya memanfaatkan Australia untuk mengasingkan para tahanan dan kemudian memaksa mereka bekerja di Australia layaknya budak yang tidak dibayar.

Saat Inggris menghentikan kebijakan pengiriman tahanan ke Australia, orang-orang kulit putih yang sudah tidak lagi menjadi budak kini malah balik memperbudak suku Aborigin. Praktik perbudakan orang Aborigin oleh orang kulit putih Australia baru berhenti pada tahun 1901 setelah Inggris turun tangan.

Sumber :
https://listverse.com/2018/06/21/10-little-known-stories-about-how-slavery-ended-around-the-world/