Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Menggendong Mayat Anak

Menggendong Mayat Anak Di China

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2WGXzxRmG1hBAEJha9RVEuclCqcqz8stAzFd6GzMsRLyx2TbIhxKzOZWJD8IeLo35UvqkHHO4ylfOl3N7r9vV2F3fv3Dh-r1ysy5Jq1pNSimc5PEscbWx-21qTyTo9B0QgEaatiQF-A/s400/Bawa-mayat-anak.jpg

Tidak punya biaya untuk sewa Mobil Jenazah pria China ini rela menggendong mayat putrinya yang sudah meninggal untuk di bawa ke Kuburan untuk di makamkan. Pria China bernama Yang Cheng dan Istrinya bernama Lin Sun berduka karena kehilangan putri tercinta yang baru berusia dua tahun akibat penyakit penyakit tangan, kaki dan mulut.

Putri mereka meninggal di rumah sakit Rumah Sakit Hefei, di Provinsi Anhui, China setelah dirawat beberapa pekan.Kedua pasangan suami Istri ini pun berencana memakamkan putri mereka di pemakamam kampung halaman mereka yang berada di Quqiu yang jaraknya sangat jauh dari tempat saat ini mereka tinggal.

Karena tidak punya uang yang cukup untuk menyewa ambulan, kedua pasangan suami istri ini akhirnya harus memasukan mayat putri mereka ke dalam tas yang besar dan digendong selama perjalanan menuju terminal bus yang akan mereka gunakan untuk pergi ke kampung halaman. Tujuan mereka memasukan mayat putri mereka kedalam tas yang besar agar para penumpang bus tidak tahu jika yang mereka bawa adalah mayat manusia yang pastinya akan menakutkan banyak penumpang bus.

Namun upaya suami istri ini untuk membawa mayat putrinya menggunakan bisa harus terhalang setelah polisi mengetahui jika pasangan suami istri ini membawa mayat didalam tas besarnya. Polisi menuduh pasangan suami istri ini telah melakukan penyelundupan mayat namun Yang Cheng menolah smua tuduhan itu dan menjelaskan sebnarnya apa yang sedang terjadi pada mereka.

“Kami tidak kaya dan pengurus pemakaman ingin biaya yang menguras harta kami,” ujarnya. Akhirnya polisi membebaskan Yang Cheng setelah dua jam diperiksa. Setelah di bebaskan oleh polisi kedua pasangan suami istri ini melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman dengan menggunakan taksi karena aturan di China dilarang membawa mayat didalam bis, naun tidak diketahui apa taksi yang digunakan menggunakan uang mereka atau ada orang yang berbaik hati yang mau menyewakan taksi untuk mereka pulang.

Sunguh perjuangan yang bsesar yang dilakukan orang tua untuk anak mereka walaupun anaknya sudah meninggal.

Menggendong Mayat Anak Di Indonesia

 http://anehdidunia.com

Kisah Nyata yang terjadi di Indonesia “Seorang Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan !! Penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn).”

“Supriono akan memakamkan si kecil di kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa (KRL). Tapi di stasiun tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.”

“Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa khaerunisa untuk berobat ke puskesmas kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari..” Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.”

“Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan Sang Ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Musriki berjalan mendorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke stasiun tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.“

“Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di stasiun tebet.
Yang tersisa hanya-lah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang tercinta nya itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika (KRL) jurusan bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang (KRL) yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam.”

“Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya. Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor.”

Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.”

“Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut, karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. “Peristiwa itu adalah dosa, masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia,” Ujarnya.


sumber:http://moslempapua.blogspot.com/2012/02/ayah-supriono-menggendong-mayat-anaknya.html,http://bigcendol.blogspot.com