PLARIUSMODIFIKASI101

Waterboarding Metode Penyiksaan Kejam Terhadap Tahanan Untuk Mengorek Informasi

Sunday, October 14, 2018
Jika kalian pernah melihat film-film bertema perang atau penangkapan teroris, pasti kalian tidak asing dengan cara penyiksaan yang dilakukan oleh mata-mata atau tentara untuk menyiksa target operasi demi mendapat informasi. Salah satu penyiksaan yang cukup terkenal dan kejam adalah waterboarding. Konsep penyiksaan ini adalah dengan memasukkan air ke dalam sinus, faring, laring dan trakea untuk menciptakan perasaan tenggelam pada target korban yang biasanya adalah teroris atau tersangka teroris.

Belum pernah merasakan tenggelam itu seperti apa ? Teorinya seperti ini, jika kalian tenggelam, paru-paru akan mulai kehabisan oksigen dan sekujur tubuh memberikan respon getaran yang berlebihan serta pikiran kalian mulai tidak terkendali yang berujung pada kepanikan karena tubuh mulai melepaskan oksigen.

Kemudian kalian akan merasakan air yang membanjiri tenggorokan kalian dan saat itulah sistem pernafasan mulai tidak teratur. Sahabat anehdidunia.com kurang lebih hal seperti itulah yang terjadi ketika korban disiksa dengan metode waterboarding. Ternyata penyiksaan dengan metode waterboarding ini mempunyai fakta-fakta unik dan menarik yang akan dibahas dibawah.

Sejarah Waterboarding

Sejarah Waterboarding

Mulai dari zaman dulu, penyiksaan menggunakan air ternyata sudah sering dilakukan untuk menyiksa orang. Salah satunya adalah korban ditinggalkan dalam keadaan terikat di lautan luas yang memaksa korban untuk berenang dan menyelamatkan hidupnya yang nantinya akan mati lemas karena kehilangan tenaga. Atau menenggelamkan kepala korban secara paksa di bak mandi atau wadah berisi air, layaknya film-film, kemudian mengangkat kepala korban sembari mengajukan beberapa pertanyaan terkait informasi rahasia dan prosesnya diulang terus-menerus sampai si penyiksa mendapat semua informasi yang diperlukan.

Metode-metode tersebut adalah cikal bakal munculnya metode baru yang lebih disempurnakan, yaitu waterboarding untuk lebih mendapatkan efek yang menyakitkan dan sensasi tenggelam yang lebih perlahan-lahan. Waterboarding pertama kali didokumentasikan pada abad ke 14 yang dipopulerkan saat masa inkuisisi Spanyol.

Metode penyiksaan ini cukup populer selama masa inkuisisi Spanyol, lengkap dengan peralatan yang sudah dipersiapkan dengan sangat baik untuk menyiksa orang-orang yang tidak patuh. Menurut literatur, waterboarding saat itu disebut toca, para eksekutor akan mengikat korban dalam posisi berdiri dengan harapan korban mengakui kejahatannya. Kemudian sehelai kain ditempatkan diatas mulut korban dan air mulai dituangkan ke kain, mengalir masuk ke dalam mulut korban secara terus-menerus yang memaksa korban untuk menelan atau menahan air tersebut di dalam mulutnya. Pada awal tahun 1800-an, waterboarding sudang mulai dianggap sebagai penyiksaan yang kejam, mengerikan dan menghebohkan yang seharusnya tidak pernah digunakan oleh gereja, militer atau pemerintah karena tidak berperikemanusiaan dan menjijikkan.

Berawal dari inkuisisi Spanyol, kemudian melebar sampai Filipina melalui jalur perdagangan dan kolonialisasi yang dilakukan Spanyol untuk menaklukan pulau-pulau. Semenjak saat itulah Amerika Serikat pertama kali memulai metode waterboarding kepada orang-orang Filipina selama perang Filipina-Amerika pada tahun 1902. Bahkan sebuah surat kabar ternama mencantumkan cover depannya dengan foto tentara AS sedang menyiksa orang di Filipina dengan metode waterboarding.

Selang beberapa waktu kemudian, waterboarding menjadi bentuk penyiksaan yang menimbulkan respon kontra dari segelintir orang-orang berpengaruh. Salah satunya adalah Presiden As Theodore Roosevelt yang mengirim surat perintah kepada komandan Angkatan Darat AS untuk berhenti melakukan praktik waterboarding karena hal itu dianggap sanga kejam dan tidak biasa. Bahkan seorang perwira militer sempat mengatakan bahwa bentuk penyiksaan waterboarding menempatkan korban dalam posisi yang sangat menderita layaknya orang yang tenggelam tetapi tidak bisa tenggelam.

Penggunaan metode waterboarding di Filipina kemudian merambah ke Vietnam. Ketika perang Vietnam-AS berlangsung, pertumpahan darah yang mendatangkan tradisi lama waterboarding yang harus dilakukan untuk menyiksa tahanan untuk mendapatkan informasi penting.

Sekilas Tentang Waterboarding

Sekilas Tentang Waterboarding

Dalam eksekusi waterboarding, seseorang diletakkan di atas permukaan yang dapat disesuaikan posisinya. Biasanya tubuh korban dimiringkan pada sudut 15 sampai 20 derajat sehingga air dapat dengan mudah dialiri ke wajah korban. Sahabat anehdidunia.com korban juga biasanya diikat atau kadang-kadang ditahan oleh beberapa orang. Sama seperti tradisi yang dilakukan saat Inkuisisi Spanyol, sehelai kain ditempatkan diatas wajah korban untuk menjaga agar air tetap melekat dan masuk terus-menerus ke dalam bagian mulut dan hidung korban.

Air kemudian masuk ke tenggorokan dan hidung korban, saat itulah oksigen mulai menipis dan korban mulai merasakan seperti tenggelam, korban akan berjuang untuk menghentikan aliran air dengan memuntahkan air untuk mengambil nafas. Namun hal itu nampaknya susah dilakukan karena penggunaan kain di wajah pada dasarnya bertindak sebagai katup satu arah, yang memungkinkan korban hanya bisa menghembuskan nafas tanpa bisa menghirup napas, inilah yang menyebabkan oksigen dalam tubuh menjadi sedikit.

Karena konsep waterboarding adalah untuk menstimulasikan efek perasaan tenggelam pada korban, tahap selanjutnya yang terjadi adalah korban akan kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen dalam aliran darah. Saat ini terjadi, tubuh korban yang sebelumnya bergetar kuat akan menjadi lemas karena proses aspirasi air ke saluran pernafasan terjadi. Hilangnya kesadaran pada metode waterboarding dapat dikendalikan sepenuhnya oleh si eksekutor, eksekutor akan menghentikan aliran air ketika korban sudah tak sadarkan diri, kemudian memaksa korban untuk kembali sadar dan kembali disiksa sampai korban membeberkan sesuatu yang dicari si penyiksa.

Untuk menambah sensasi aneh pada waterboarding, terkadang digunakan air es untuk membangunkan korban yang telah hilang kesadaran, tentunya hal ini memberikan efek kejutan yang luar biasa bagi tubuh korban. Selain itu, otot tubuh juga dapat mengalami cedera ketika korban berusaha untuk melawan ketika dalam proses eksekusi, terutama jika korban diikat menggunakan tali. Waterboarding juga dapat merusak fungsi otak dan paru-paru karena kekurangan asupan oksigen.

Secara umum, air tidak mungkin masuk ke dalam paru-paru ketika dilakukan penyiksaan ini, namun beberapa korban yang sempat selamat dari penyiksaan itu melaporkan bahwa air sempat masuk ke paru-parunya sehingga menyebabkan infeksi paru-paru. Hal itu terjadi ketika air yang dituangkan masuk ke dalam hidungnya, sementara mulutnya ditutup oleh tangan si eksekutor, korban tidak bisa menahan nafasnya lebih lama dan akhirnya menghirup air tersebut yang berujung ke dalam paru-parunya. Korban yang tidak ingin disebutkan nama ini mengatakan jika momen tersebut terasa lebih mengerikan daripada waterboarding yang umum dilakukan.

Sedangkan dalam kasus lainnya, praktek waterboarding juga dapat menyebabkan air masuk ke dalam lambung sehingga menciptakan rasa sakit yang sangat hebat. Seperti halnya yang terjadi pada Ramon Navarro, korban seorang penjahat perang Jepang bernama Chinsaku Yuki yang menyiksa Ramon dengan metode waterboarding. Ramon mengatakan bahwa pada saat penyiksaan dilakukan, ia sempat sadar dan merasakan bahwa Yuki duduk diatas perutnya untuk memaksa air yang masuk kembalik keluar melalui mulut dan hidungnya, kemudian Yuki mulai memasukkan air ke dalam tubuhnya dan hal itu terus-menerus dilakukan Yuki. Jika hal tersebut terus dilakukan, rongga sinus menjadi rusak dan bisa mengakibatkan kematian (yang tentunya bukan tujuan utama dari sebuah penyiksaan).

Legalitas Waterboarding

Legalitas Waterboarding

Konvensi Jenewa tahun 1949 yang berisi tentang serangkai perjanjian yang menetapakan standar hukum internasional untuk pengobatan kemanusiaan perang dan sudah ditandatangani dan disetujui oleh berbagai negara, melarang berbagai bentuk penyiksaan yang dianggap terlalu kejam dan mengerikan bagi manusia. Salah satunya adalah metode waterboarding secara resmi merupakan sebuah tindakan kejahatan perang dan para eksekutor dianggap sebagai kriminal perang. Namun, sejak awal munculnya metode waterboarding memang sudah dikecam oleh berbagai pihak dan tetap saja ada pihak yang menggunakannya secara ilegal.

Bahkan Presiden AS Donald Trump justru menyarankan digunakannya penyiksaan waterboarding dapat dilakukan jika memang dalam keadaan yang terpaksa. Hal ini dilakukan untuk memerangi terorisme, hal yang sama juga terjadi saat pemerintahan Bush yang melegalkan waterboarding baik di luar maupun dalam negeri.

Itulah beberapa fakta menarik seputar waterboarding yang mungkin menjawab pertanyaan kalian ketika menonton film dengan penyiksaan seperti itu. Selain kejam dan mengerikan, tentunya waterboarding juga memberikan efek jera kepada setiap korbannya, sehingga metode ini masih digunakan secara ilegal oleh beberapa kalangan. Tentu saja kami ingatkan untuk tidak mencoba melakukan hal berbahaya ini.

Referensi
https://www.npr.org/2007/11/03/15886834/waterboarding-a-tortured-history



close