PLARIUSMODIFIKASI101

Sosok Lyudmila Pavlichenko Sniper Wanita Paling Mematikan Saat Perang Dunia II

Saturday, May 18, 2019
Medan Perang merupakan tempat paling kejam dan tak kenal ampun yang pernah ada di dunia. Karena itu medan perang merupakan tempat yang tak cocok bagi wanita yang sering dianggap lemah dan memiliki perasaan yang lembut. Namun stigma ini nampakna tak berlaku bagi sosok Lyudmila Pavlichenko, seorang wanita cantik yang membuktikan kalau dirinya sanggup bertahan di medan perang yang kejam dan bahkan berhasil menjadi salah satu predator paling mematikan.

Lyudmila Pavlichenko

Selama masa Perang Dunia II, Lyudmila yang merupakan bagian dari skuad sniper wanita milik Red Army (Uni Soviet/ Rusia) tercatat berhasil menghabisi setidaknya 309 prajurit Nazi dalam berbagai pertempuran. Dengan catatan impresif ini Lyudmila kemudian mendapat julukan sebagai sniper wanita paling mematikan dalam sejarah Perang Dunia II.

Tapi bagaimana sosok yang memiliki paras cantik ini bisa bergabung dalam perang dan seperti apa sosok Lyudmila sebenarnya, berikut sedikit kisah tentang sniper mematikan ini..

Masa Muda

Lyudmila Pavlichenko Masa Muda

Lahir pada 12 Juli 1916 di Bila Tserkva yang sekarang lebih dikenal sebagai Ukraina, Lyudmila merupakan bagian dari sebuah keluarga sederhana yang hidup di pedesaan. Sahabat anehdidunia.com seperti gadis pedesaan pada umumnya, hidup Lyudmila sebenarnya berjalan biasa saja hingga saat ia berusia 14 tahun, keluarga Lyudmila memutuskan untuk pindah ke kota Kiev.

Di ibukota Ukraina inilah kehidupan Lyudmila mulai berubah 180 derajat, ia mulai punya hobi baru yaitu menembak. Ketertarikan Lyudmila pada dunia menembak mulai ia dapat setelah Lyudmila mulai bekerja sebagai tukang grinda di perusahaan senjata yang ada di kota Kiev. Hobi ini kemudian makin ia asah saat Lyudmila, bergabung dengan sebuah klub menembak bernama OSOAVIAKhIM. Di klub menembak inilah Lyudmila mulai berkembang menjadi seorang penembak jitu.

Pernikahan

Lyudmila Pavlichenko Sniper Wanita

Seperti halnya remaja perempuan pada umumnya, Lyudmila juga mengalami masa-masa ia jatuh pada lawan jenis. Semasa berada di Kiev, Lyudmila bertemu seorang pria bernama Alexei Pavlichenko, keduanya kemudian saling jatuh hati dan kemudian memutuskan untuk menikah. Lyudmila menikah dengan Alexei pada tahun 1932 saat Lyudmila masih berusia 16 tahun, pasangan ini tak lama kemudian dikaruniai seorang putra bernama Rostislav.

Sayangnya usia pernikahan Lyudmila dan Alexei hanya mampu bertahan seumur jagung, karena pada tahun 1937 keduanya kemudian memutuskan untuk bercerai. Selepas perceraian ini Lyudmila kemudian memutuskan untuk lebih fokus merawat anaknya sekaligus merampungkan studinya di Universitas Kiev. Lyudmila kemudian berhasil menjadi Master dalam bidang sejarah.

Sempat Ditolak Saat Mendaftar Sebagai Tentara

Lyudmila Pavlichenko Mendaftar Tentara

Pada bulan Juni 1941 saat perang mulai pecah dan tentara Jerman mulai menginvasi Uni Soviet, Lyudmila yang kala itu masih berusia 24 tahun langsung terketuk hatinya untuk bergabung dengan militer guna melindungi negaranya. Sahabat anehdidunia.com Lyudmila kemudian mendaftar untuk bergabung dalam batalion 25 Red Army. Namun karena statusnya sebagai wanita, Lyudmila sempat mendapat penolakan oleh peugas kala itu yang lebih menganjurkanya untuk menjadi Perawat dan bergabung dengan Tim Medis.

Mendapat penolakan ini, Lyudmila tak patah semangat, ia kemudian menunjukan beberapa sertifikat kejuaraan menembak yang pernah ia  menangkan. Berkat sertifikat ini, Lyudmila akhirnya berhasil bergabung dengan militer, tak lama kemudian bersama 2.000 sniper wanita lain Lyudmila berhasl lolos seleksi untuk bergabung di garis depan medan perang sebagai bagian dari Red Army. 

Masa Perang Dunia II

Lyudmila Pavlichenko Sniper

Tak lama kemudian pada awal bulan Agustus 1941, Lyudmila berhasil mencetak pembunuhan pertamanya. Saat itu Lyudmila yang ditugaskan untuk melindungi sebuah bukit strategis di dekat Belyayevka berhasil menghabisi 2 tentara Nazi, setelah menembak keduanya dengan senapan Mosin-Nagant model 1891 dari jarak 550 meter. Prestasi ini tergolong luar biasa karena Mosin-Nagant model 1891 sebenarnya bukan senapan khusus untuk sniper. Pada masa Perang Dunia II senapan Mosin-Nagant model 1891, dimodiikasi dengan menambahkan teleskop agar bisa digunakan oleh para sniper.

Berkat prestasinya di Belyayevka, Lyudmila kemudian di tugaskan untuk mempertahankan kota Odessa. Selama tak kurang dari dua setengah bulan bertugas di Odessa, Lyudmila sudah berhasil menghabisi 187 prajurit Nazi. Namun meski begitu karena kalah jumlah dari tentara Nazi pada  15 Oktober 1941, Jerman akhirnya berhasil menguasai Oddesa. Besama pasukan lainya, Lyudmila kemudian di tarik ke Sevastopol yang berada di Semenanjung Crimea.

Di Sevastopol, Lyudmila bersama kesatuanya kurang lebih bertempur melawan tentara Nazi selama 8 bulan lebih. Selama periode ini Lyudmila membunuh setidaknya 257 tentara Nazi termasuk diantaranya 36 sniper yang mengincar nyawanya. Sahabat anehdidunia.com dengan jumlah ini Lyudmila setidaknya telah membunuh 309 orang tentara Nazi selama masa Perang Dunia II. 

Sayangnya aksi Lyudmila harus terhenti pada bulan Juni 1942, setelah ia mengalami luka akibat ledakan mortir. Akibat lukanya ini Lyudmila harus menepi dari medan perang hingga 1 bulan lamanya.

Menjadi Simbol Aliansi

Lyudmila Pavlichenko Legenda Sniper

Sayangnya setelah mendapat perawatan akibat luka yang ia dapat, Lyudmila tak lagi bisa kembali ke medan perang, setelah komandan tertinggi pasukan Uni Soviet melihat potensi lain dalam diri Lyudmila. Dengan statusnya sebagai sniper wanita dan jumlah tentara Nazi yang berhasil di bunuh, sosok Lyudmila dianggap bisa mnjadi simbol bagi Uni Soviet untuk merangkul pihak skutu lain seperti Amerika dan Kanada.

Karena itu Lyudmila, kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional dan ditugaskan untuk melakukan lawatan ke negara-negara barat. Sahabat anehdidunia.com selama kunjunganya ini Lyudmila mendapat sambutan hangat bagi di Amerika maupun Kanada, ia dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap Nazi. Dalam salah satu pidatonya Lyudmila bahkan pernah berkata "Saya seorang wanita berusia 25 tahun dan telah membunuh 309 tentara Nazi, apakah kaum pria disini tak menunggu terlalu lama." Kalimat ini sendiri merupakan sindiran bai pihak barat yang kala itu belum terjun sepenuhnya ke medan perang.

Setelah masa Perang Dunia II, Lyudmila tetap mengabdi pada angkatan bersenjata Uni Soviet sebagai Mayor Angkatan Laut hingga tahun 1953, sebelum akhirnya aktif pada oranisasi veteran. Pada tahun  1974, Lyudmila akhirnya tutup usia pada usia 58 tahun akibat stroke yang ia derita.  Di akhir hayatnya Lyudmila mengaku bahwa ia membunuh banyak tentara Nazi karena terpaksa, demi melindungi rekan-rekanya yang saat itu masih muda.

Referesi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Lyudmila_Pavlichenko
https://intisari.grid.id/read/031720089/lyudmila-pavlichenko-sniper-cantik-rusia-yang-dijuluki-malaikat-pencabut-nyawa-tembak-mati-309-serdadu-nazi?page=all


close