PLARIUSMODIFIKASI101

Fakta Bibliomania, Orang Tergila-Gila Mengoleksi Buku

Monday, May 11, 2020
Mengoleksi buku kerap dipandang sebagai hal yang positif karena buku menyimpan banyak informasi di dalamnya. Namun bagaimana jika seseorang mengumpulkan buku hingga berjumlah ribuan? Dalam ranah ilmu pengetahuan, fenomena di mana seseorang ketagihan mengumpulkan buku secara berlebihan dikenal sebagai bibliomania. Berikut ini adalah fakta-fakta terkait bibliomania yan patut anda simak.

Bibliomania Mungkin Disebabkan oleh Trauma

koleksi buku
Ilustrasi tergila gila koleksi buku via worldnastionaldays.com
Bibliomania sudah lama diketahui oleh kalangan ilmuwan dan sudah dipelajari selama kurang lebih dua abad. Menariknya, Asosiasi Psikiatris Amerika justru menolak mengakui bibliomania sebagai gangguan kejiwaan.

Sikap serupa juga dianut oleh lembaga penerbitan milik Universitas Oxford. Alih-alih mengakui bibliomania sebagai gangguan kejiwaan, mereka lebih suka mendeskripsikan bibliomania sebagai wujud antusiasme yang luar biasa.

Meskipun begitu, tindakan yang dilakukan oleh pelaku bibliomania tetap saja bukanlah tindakan yang wajar. Sahabat anehdidunia.com kalangan psikolog sendiri memandang bibliomania sebagai bagian dari gejala obsesif kompulsif. Jika jumlah buku yang dikumpulkan oleh seseorang terlampau banyak, maka tindakannya tersebut bakal turut berdampak pada kesehatan dan hubungannya dengan orang lain.

Seseorang konon bakal ketagihan untuk menimbun buku sejak masih berusia amat muda sebagai cara untuk menangani masalah sehari-hari yang harus dihadapinya. Menurut sejumlah pakar kejiwan, bibliomania merupakan contoh bentuk pertahanan diri yang bakal timbul ketika seseorang berulang kali menjadi korban penganinayaan dan menderita trauma serius.

Supaya trauma dan pengalaman buruk yang pernah diderita orang tersebut tidak sampai diketahui oleh orang-orang di sekitarnya, orang itu pun kemudian mencari pelampiasan dengan cara menimbun buku sebanyak mungkin.

Fenomena serupa juga dapat dijumpai pada seseorang yang ketagihan mengkonsumsi narkoba atau minuman keras supaya bisa terlepas dari bayang-bayang traumanya. Walaupun menimbun buku nampaknya bukanlah tindakan yang berbahaya, bibliomania bisa membawa dampak buruk bagi sang pengidap maupun orang-orang di sekitarnya jika sampai dibiarkan berlanjut hingga tak terkendali.

Bibliomania sendiri ada banyak ragamnya. Ada pengidap bibliomania yang mengumpulkan sembarang buku selama buku tersebut bisa membawa kesenangan baginya. Ada pula pengidap bibliomania yang terobsesi untuk memiliki segala macam buku. Ada juga yang menyimpan buku-buku miliknya sedemikian rupa supaya koleksi bukunya nampak sakral.

Bibliomania Sudah Ada Sejak Ribuan Tahun yang Lalu

Ashurbanipal
Ashurbanipal via britishmuseum.org
Ashurbanipal adalah nama dari kaisar Neo-Assyria, suatu kerajaan kuno yang wilayahnya berpusat di wilayah modern Irak. Pada masa jayanya, Neo-Assyria merupakan salah satu kerajaan terbesar pada masanya. Hal tersebut lantas membuat Ashurbanipal berani mengklaim dirinya sebagai “raja dunia”.

Ashurbanipal bukan hanya terkenal sebagai salah satu raja terhebat pada masanya. Ia juga memiliki hobi mengumpulkan buku sehingga tidak salah untuk menyebutnya sebagai bibliomania yang paling awal diketahui dalam sejarah.

Ketertarikan Ashurbanipal akan buku atau karya tulis tergolong unik karena tidak banyak raja-raja dari abad ke-7 SM yang memiliki kemampuan membaca dan menulis. Ashurbanipal adalah satu dari sedikit raja pada masa itu yang memiliki kemampuan demikian. 

Untuk menunjang hobinya tersebut, Ashurbanipal pun mendirikan perpustakaannya sendiri. Setiap kali ia menaklukkan wilayah baru dan menemukan karya tulis baru yang ada di sana, Ashurbanipal akan memasukkan karya tulis tersebut ke dalam perpustakaannya. 

Di masa itu, penggunaan kertas sebagai media tulis masih belum dikenal. Sebagai gantinya, karya tulis pada masa itu biasanya dibuat pada lempengan tanah liat yang dipahat. Jumlah buku atau tablet yang dimiliki oleh Ashurbanipal dikabarkan mencapai ratusan ribu. Supaya koleksi bukunya aman dari penjarah, Ashurbanipal dikabarkan menanam mantera kutukan pada perpustakaannya.

Saat Neo-Assyria akhirnya mengalami keruntuhan, perpustakaan Ashurbanipal terkubur di bawah puing-puing istananya hingga ribuan tahun lamanya. Sahabat anehdidunia.com baru pada tahun 1849, ilmuwan akhirnya berhasil menemukan keberadaan perpustakaan Ashurbanipal. Salah satu peninggalan paling terkenal dari perpustakaan tersebut adalah Epik Gilgamesh.

Bibliomania Bisa Membahayakan Diri Sendiri

Bibliomania
Bibliomania berbahaya via listverse.com
Walaupun nampaknya tidak merugikan, bibliomania ternyata tetap menyimpan bahaya terselubung. Bahaya macam ini utamanya bakal dirasakan oleh pengidap bibliomania yang ukuran rumahnya tidak sebesar koleksi buku yang dimilikinya.

Saat jumlah buku yang ditimbun oleh seseorang sudah begitu banyak, maka buku-buku tersebut akan memenuhi setiap sudut ruangan. Mulai dari kamar, dapur, dan bahkan kamar mandi. Jika sudah begitu, maka aktivitas sehari-hari bakal terganggu karena untuk buku-buku tersebut bakal membuat ruangan terasa kian sempit.

Buku-buku tadi juga bakal ada yang merintangi jalan sehingga berjalan tanpa tersandung atau menyenggol buku bakal menjadi keseharian yang harus dijalani. Pengidap bibliomania juga harus rajin-rajin membersihkan koleksi bukunya supaya tidak dipenuhi debu dan menjadi sarang serangga.

Buku yang terlalu banyak memenuhi suatu tempat juga bisa meningkatkan resiko kebakaran. Alasannya sederhana saja. Buku terbuat dari kertas yang notabene merupakan bahan mudah terbakar. Jadi jika ada api yang menyala dan mengenai buku-buku tersebut, bisa dibayangkan kan bagaimana dampaknya? Terlebih lagi jika sang pengidap bibliomania memiliki kebiasaan merokok di dalam ruangan.

Bibliomania juga bisa mendorong timbulnya kelainan lain yang bernama bibliophagy, suatu kondisi di mana seseorang merasa sangat ingin memakan buku. Kondisi yang jika dibiarkan begitu saja tentunya bakal membahayakan pengidapnya.

Bibliomania Bisa Sebabkan Pengidapnya Ketagihan Mencuri

Bibliomania
ilustrasi Bibliomania bisa menyebabkan ketagihan mencuri via istockphoto.com
Demi melampiaskan hasratnya memiliki buku sebanyak mungkin, pengidap bibliomania akan mengeluarkan begitu banyak uang untuk membeli buku-buku yang diinginkannya. Namun bagaimana jika orang tersebut tidak memiliki cukup uang? Bagi Stephen Blumberg, jalan keluar dari masalah tersebut adalah dengan mencuri. Tindakan yang lantas membuatnya dijuluki sebagai “Bandit Buku”.

Blumberg adalah pria asal Iowa, Amerika Serikat, yang sudah mencuri lebih dari 23.600 buku. Buku-buku tersebut berasal dari 327 perpustakaan dan museum yang tersebar di Amerika Serikat dan Kanada. Banyaknya tempat yang menjadi korban Blumberg tidak lepas dari kebiasaan Blumberg untuk hidup berpindah-pindah.

Untuk menjalankan aksinya, Blumberg akan menyelinap melalui lokas-lokasi semisal saluran ventilasi. Saat sepak terjangnya semakin merajarela, lembaga penegak hukum pun menjanjikan hadiah senilai ribuan dollar bagi siapapun yang bisa memberikan informasi mengenai Blumberg.

Merasa tertarik akan imbalan tersebut, sahabat Blumberg pun membocorkan keberadaan Blumberg kepada FBI pada tahun 1990. Nilai total buku-buku yang dicuri oleh Blumberg dikabarkan mencapai 5,3 juta dollar (lebih dari 79 milyar rupiah). Sahabat anehdidunia.com atas tindakannya mencuri buku, Blumberg pun kemudian dijatuhi hukuman penjara 4,5 tahun.

Blumberg bukanlah satu-satunya pengidap bibliomania yang melakukan pencurian untuk menambah koleksi bukunya. Alois Pichler adalah seorang pria yang pada tahun 1869 ditunjuk menjadi penjaga perpustakaan di St. Petersburg, Rusia. 

Selama beberapa bulan sejak Pichler mulai bekerja, buku-buku kerap menghilang secara misterius di perpustakaan tempatnya bekerja. Total, ada 45.000 buku yang menghilang dalam rentang waktu 2 tahun sejak Pichler mulai bekerja.

Penjaga keamanan lantas mulai mencurigai Pichler sebagai penyebab hilangnya buku-buku tersebut. Pasalnya Pichler memiliki kebiasaan menjatuhkan buku di pintu keluar dan kemudian bergegas kembali ke rak untuk menata buku-buku tersebut. Pichler juga memiliki kebiasaan mengenakan jaket besar yang hampir tidak pernah ia lepaskan.

Pichler lantas ditangkap oleh polisi dan diadili atas tuduhan mencuri buku. Pengacara pembela Pichler mencoba membebaskan kliennya dari ancaman hukuman dengan menyatakan kalau Pichler memiliki gangguan mental. Namun hakim tidak bergeming sehingga Pichler pun dinyatakan bersalah dan diasingkan ke Siberia.

referensi :
https://listverse.com/2019/06/15/10-things-you-may-not-know-about-bibliomania/



close