PLARIUSMODIFIKASI101

Kasus Stockholm Syndrome Sandera Malah Menyayangi Penculik

Monday, October 29, 2018
Di berbagai negara, termasuk Indonesia, kerap terjadi kasus penculikan. Penculikan jelas cukup meresahkan, terutama bagi keluarga yang anggota keluarganya diculik, karena terkadang korban penculikan itu berakhir dibunuh oleh penculiknya. Namun, ada kasus di mana sang korban penculikan malah menaruh empati pada penculiknya. Yang demikian itu dinamakan dengan Stockholm Syndrome.

Stockholm Syndrome adalah respon psikologis di mana dalam kasus-kasus tertentu para sandera penculikan menunjukkan tanda-tanda kesetiaan atau sayang kepada penyanderanya tanpa memperdulikan bahaya atau risiko yang telah dialami oleh sandera itu. Memang cukup aneh, tapi hal ini pernah terjadi di berbagai negara. Contoh kasusnya bisa dilihat berikut ini.

Perampokan Bank

Jan-Erik Olsson

Istilah Stockholm Syndrome  ini bermula dari insiden perampokan di Bank Sveriges Kreditbanken, Kota Stockholm, Swedia pada tanggal 23 Agustus 1973 silam. Pada tanggal tersebut, seorang pria bernama Jan-Erik Olsson, melakukan perampokan di Bank Sveriges Kreditbanken. Dalam perampokan itu, Jan-Erik menyandera 4 orang, yang terdiri dari 3 perempuan dan 1 laki-laki. Mereka bernama Birgitta Lundblad, Elisabeth Oldgren, Kristin Ehnmark and Sven Safstrom. Sahabat anehdidunia.com selama 6 hari, semua korban disekap, diikat bom, dan dianiaya oleh Jan-Erik. Anehnya, para korban tersebut malah merasa simpati kepada si perampok dan meminta agar mereka bisa dibebaskan bersama perampok. Kristin, perempuan yang menjadi salah satu korban bahkan jatuh cinta pada si perampok itu.

Setelah proses negosiasi dilakukan, Jan-Erik pun setuju untuk membebaskan semua sanderanya. Namun terjadi hal di luar dugaan. Keempat korban justru memeluk Jan-Erik demi melindungi si pelaku dari polisi. Para sandera bahkan menuduh polisi merupakan ancaman dan bisa membunuh mereka dan berbalik membela mati-matian sang perampok yang dianggap akan melindunginya. Meski merupakan pelaku perampokan, ternyata dia malah disayang oleh korban-korbannya. Tetap saja, pelaku kejahatan harus dihukum. Namun, beberapa hari setelah Jan-Erik berhasil bebas dari penjara, Kristin si korban dan Jan-Erik dikabarkan melanjutkan jalinan cintanya dan bertunangan.
Dari situlah muncul istilah Stockholm Syndrome.

Kasus Mary McElroy

Kasus Mary McElroy

Kasus ini terjadi pada tanggal 27 Mei 1933. Ketika itu, Mary sedang mandi di rumahnya, namun ternyata rumahnya dibobol oleh 4 orang yang akan menculiknya. Setelah selesai mandi dan berpakaian, mereka pun menculik Mary, dan membawanya ke rumah tua dan mengikatnya di dinding.
Ternyata, alasan keempat orang itu menculik Mary adalah karena mereka tahu bahwa Mary merupakan anak dari Henry F. McElroy, seorang konglomerat di Kansas City. Menculik anak dari konglomerat jelas bisa mendatangkan uang cukup besar. Awalnya, mereka meminta uang tebusan sebesar USD 60 ribu (sekitar Rp 900 juta jika menggunakan kurs sekarang), namun mereka hanya berhasil mendapatkan USD 30 ribu (sekitar Rp 450 juta) setelah melalui proses negosiasi. Uang tebusan pun mereka dapatkan dua hari kemudian, tanggal 29 Mei 1933. Mary pun bebas tanpa mendapatkan luka sedikitpun.

Namun, sekitar sebulan kemudian, tiga orang pelaku penculikan itu berhasil ditangkap, dan ditahan di penjara. Dari sini muncul permasalahan. Mary mengaku bahwa selama diculik, para pelakunya memperlakukannya dengan baik. Bahkan, salah satu dari pelakunya pernah memberikan Mary seikat bunga. Sayangnya, hal tersebut tak membuat para pelaku bebas. Mereka pun mendapatkan hukuman berat. Hal itu membuat Mary merasa bersalah. Sahabat anehdidunia.com Mary ternyata merasa simpati pada mereka, masih berusaha untuk membebaskan ketiga orang yang menculiknya itu, sampai memohon pada gubernur saat itu untuk membatalkan hukumannya. Mary juga kerap mengunjungi para pelaku penculikan itu di penjara, sambil sesekali memberikan hadiah untuk mereka. Enam tahun kemudian, kondisi mental Mary jatuh karena ayahnya meninggal. Setahun kemudian, 21 Januari 1940, Mary pun melakukan bunuh diri dengan menembak kepalanya. Surat wasiatnya bertuliskan bahwa keempat pelaku penculikan yang menculiknya dulu kemungkinan adalah empat orang terbaik di Bumi yang tak menganggapnya sebagai orang bodoh.

Kasus Elizabeth Smart

Kasus Elizabeth Smart

Tanggal 5 Juni 2002, seorang gadis berusia 14 tahun bernama Elizabeth Smart diculik dari rumahnya yang berad adi Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat. Pelaku penculikan diketahui bernama Brian David Mitchell, dan istrinya yang bernama Wanda Barzee. Mereka pun membawa Elizabeth ke sebuah rumah gubuk di tengah hutan. Selama 9 bulan masa penahanannya, Elizabeth kerap diperkosa oleh Brian. Anehnya, meski mendapatkan perlakuan tak mengenakkan, Elizabeth tak berusaha untuk kabur. Bahkan, pernah beberapa kali Elizabeth diperbolehkan untuk keluar rumah, dan bepergian ke mana pun dia suka. 

Dalam perjalanannya ke perpustakaan, Elizabeth pernah ditanya oleh polisi, namun dia tak memberitahukan identitas aslinya, dan juga tak meminta tolong pada polisi itu. Padahal dia bisa saja melakukannya untuk membuat pelaku penculikannya ditangkap. Sahabat anehdidunia.com akhirnya, kejahatan dari Brian dan Wanda pun terbongkar, dan mereka ditangkap polisi. Elizabeth lalu dikembalikan ke rumah orangtuanya. Brian dihukum penjara seumur hidup, dan istrinya menerima hukuman penjara selama 15 tahun. Kenapa pada saat itu Elizabeth tak melaporkan penculikan Brian dan Wanda pada polisi? Bisa jadi, karena pada saat itu Elizabeth sudah terkena Stockholm Syndrome, yang membuatnya merasa kasihan pada si penculik.

Patty Hearst

Patty Hearst

Tanggal 4 Februari 1974, sekelompok orang bersenjata membobol masuk apartemen Patty Hearst, 19 tahun, yang berlokasi di Berkeley, California, Amerika Serikat. Tunangan dari Patty pun dipukuli, dan Patty diculik. Diketahui, pelaku penculikan Patty itu menamai diri mereka dengan nama Symbionese Liberation Army (SLA), dan mereka menginginkan perang dengan Amerika Serikat. Namun, pada bulan April 1974, sesuatu yang di luar dugaan terjadi. Patty, yang harusnya menjadi korban penculikan, malah bergabung ke kelompok teroris yang menculiknya. Dia pun menyerukan ingin menjadi salah satu dari tentara revolusioner. 

Bahkan dia sempat terekam kamera turut membantu teroris itu merampok sebuah bank. Semua itu dia lakukan selama beberapa tahun. Akhirnya, tanggal 18 September 1975, Patty berhasil ditangkap dengan tuduhan perampokan, dan dikurung dalam penjara selama 7 tahun. Saat disidang, Patty mengaku bahwa dia terkena cuci otak dari pelaku penculikan yang menculiknya, meski bisa saja bukan itu yang terjadi sebenarnya. Dua tahun kemudian, dia pun dibebaskan.

Natascha Kampusch

Natascha Kampusch

Natascha Kampusch, yang pada tanggal 2 Maret 1998 masih berusia 10 tahun, sedang berjalan menuju ke sekolahnya. Di tengah perjalanan, dia pun disekap oleh dua orang dan dimasukkan ke dalam mobil van warna putih. Sahabat anehdidunia.com penculikan Natascha ini sempat membuat heboh, dan pencarian pun dilakukan. Sayangnya, polisi masih belum berhasil menemukan gadis malang ini. Wolfgang PÅ™iklopil, sang pelaku penculikan, menyandera Natascha selama 8 tahun di rumahnya, tepatnya sebuah gudang bawah tanah yang kecil, tak memiliki jendela, dan kedap suara. Awalnya, layaknya seorang tahanan, Natascha tak diperbolehkan untuk keluar dari ruangan itu. Namun lama kelamaan, Natascha sudah menjadi bagian dari para penculik itu. Natascha pun diberikan kebebasan dalam rumah Wolfgang, asalkan dia tak berbicara pada siapa pun mengenai penculikan ini.

Uniknya, dalam tahun-tahun pertamanya, Natascha diizinkan untuk membaca surat kabar yang telah disensor, buku-buku, mendengarkan radio dan menonton video. Ia juga menyatakan bahwa penculiknya terutama memberinya pelajaran membaca dan menulis. Pada 17 Februari 2013, dia mengakui bahwa Wolfgang telah melakukan perkosaan terhadapnya beberapa kali selama dia menjadi tawanannya. Kemudian pada tanggal 23 Agustus 2006, Natascha berhasil melarikan diri dari rumah Wolfgang, dan melaporkan apa yang terjadi pada orang di sekitar rumah Wolfgang. Orang itu pun melaporkan hal ini ke polisi, dan Natascha aman di bawah perlindungan polisi.

Sadar menjadi incaran polisi dan bakal ditangkap serta dihukum berat, Wolfgang pun bunuh diri dengan cara melompat ke depan kereta yang sedang berjalan. Wolfgang tewas seketika. Namun anehnya, begitu mengetahui kabar kematian Wolfgang, Natascha malah menangis dan duduk di depan peti mati Wolfgang selama berjam-jam. Bahkan, Natascha juga diketahui menyimpan foto Wolfgang di dompetnya. Jelas, bahwa Natascha sudah terkena Stockholm Syndrome.

Dari kelima kasus Stockholm Syndrome di atas, mana yang menurut kalian paling aneh?

referensi 
https://www.liputan6.com/global/read/2299772/23-8-1973-stockholm-syndrome-kisah-korban-kepincut-perampok
https://the-line-up.com/stockholm-syndrome
https://id.wikipedia.org/wiki/Natascha_Kampusch