Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Biarpun Maju, 5 Kebiasaan Jadul Ini Ternyata Masih Dilakukan oleh Penduduk Jepang

Jepang terkenal sebagai negara maju yang banyak menelurkan produk-produk canggih dan berteknokogi tinggi. Namun hal tersebut tidak lantas menjadikan rakyat Jepang hidup dalam kondisi serba futuristik. Berikut ini adalah 5 hal yang di luar Jepang dipandang sebagai kebiasaan udik dan ketinggalan zaman, namun masih banyak dilakukan di Jepang sana.

Bersepeda

Bersepeda
Bersepeda via kompas.com

Sebagai negara maju, mungkin ada di antara anda yang membayangkan kalau penduduk Jepang hanya menggunakan kendaraan bermotor sebagai alat transportasi sehari-harinya. Terlebih lagi, Jepang menjadi negara asal dari produsen-produsen kendaraan bermotor terkemuka seperti Yamaha, Honda, Kawasaki, dan masih banyak lagi.

Faktanya, kendati penduduk Jepang memang menggunakan kendaraan bermotor untuk keperluan transportasi, ternyata penggunaan sepeda oleh warga Jepang tidak kalah tinggi.

Jepang merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna sepeda tertinggi di dunia. Diperkirakan ada lebih dari 100 juta pengguna sepeda di Jepang. Saking tingginya, jumlah unit sepeda di negara tersebut dilaporkan lebih banyak dibandingkan jumlah mobil.

Kondisi serupa juga dapat dijumpai di Tokyo, ibukota Jepang yang menyandang reputasi sebagai salah satu kota paling maju di dunia. Sebanyak 16 persen aktivitas transportasi di Tokyo dilaporkan menggunakan sepeda.

Tingginya penggunaan sepeda di Jepang tidak lepas dari fakta bahwa alat transportasi ini sangat praktis dan terjangkau. Saat menggunakan sepeda, orang tersebut tidak perlu repot memikirkan biaya bahan bakar dan semacamnya.

Sepeda yang biasa digunakan orang Jepang pun bukan sepeda bermerk yang harganya mahal, melainkan sepeda sederhana dengan tempat duduk di belakangnya. Oleh orang Jepang, sepeda ini dikenal sebagai mamachari (sepedanya kaum ibu) karena biasa digunakan oleh orang tua untuk mengantar anaknya ke sekolah.

Memakai Disket dan Mesin Faks

Memakai Disket dan Mesin Faks
Memakai Disket dan Mesin Faks via mybest.id

Bagi mereka yang sudah pernah merasakan hidup di lingkungan perkantoran pada tahun 90-an, disket dan mesin faks merupakan 2 benda yang sangat lazim dijumpai. Pasalnya kedua benda tersebut amat diperlukan dalam urusan perkantoran.

Disket dibutuhkan untuk menyimpan data dari komputer supaya bisa dibuka di komputer lain. Saking lumrahnya penggunaan disket pada periode tersebut, gambar disket menjadi icon yang digunakan untuk menyimbolkan tombol perintah menyimpan data (Save) di program Microsoft Words dan turunannya.

Mesin faks atau faksimili digunakan untuk mengirim dokumen cetak ke tempat lain. Mesin ini biasanya digunakan saat 2 perusahaan atau lebih ingin mengirim dokumen perjanjian satu sama lain.

Sekarang, disket dan mesin faks sudah hampir tidak pernah lagi digunakan. Penggunaan disket sekarang digantikan oleh flash disk dan external HDD yang memiliki kapasitas penyimpanan jauh lebih besar. Penggunaan mesin faks sekarang digantikan oleh teknologi internet dan scanner.

Namun di Jepang sana, penggunaan disket dan mesin faks ternyata masih cukup luas, khususnya di lingkungan kantor pemerintahan. Karena pegawai-pegawai senior di sana sudah terlanjur terbiasa menggunakan disket dan mesin faks, penggunaan kedua benda tadi masih tetap belum ditinggalkan hingga sekarang.

Karena dianggap sudah ketinggalan zaman, Menteri Digital Jepang Taro Kono sampai mencetuskan "perang melawan disket" pada tahun 2022 lalu. Ia menambahkan kalau kebijakan ini diharapkan bakal membuat instansi pemerintahan menjadi lebih mudah melakukan pertukaran informasi melalui internet dan merangkul generasi muda.

T3lanjang Bulat di Tempat Umum

Telanjang Bulat di Tempat Umum
Telanjang Bulat di Tempat Umum via jladvisor.com

Memakai pakaian yang sopan dan pantas merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh setiap orang saat pergi ke tempat umum. Bahkan di tempat umum seperti pantai dan kolam renang sekalipun, orang normalnya tetap tidak akan bertelanjang bulat sepenuhnya, tapi masih memakai pakaian untuk menutupi bagian vitalnya.

Namun situasi tersebut tidak berlaku di Jepang. Pasalnya di tempat ini, orang-orang justru diharuskan untuk melepas semua pakaiannya. Itu berarti saat sedang berada di tempat ini, orang-orang bakal berkerumun dalam kondisi telanjang bulat!

Tempat tersebut adalah pemandian air panas umum (onsen). Saat sedang berada di pemandian, orang-orang tidak mengenakan pakaian sama sekali. Selama berendam, mereka bisa bersantai sambil menikmati pemandangan atau mengobrol ringan.

Jika anda merasa malu kalau anda bakal dipelototi oleh lawan jenis saat sedang berada di onsen, maka anda tidak perlu risau. Pasalnya tempat di pemandian umum dipisah berdasarkan jenis kelaminnya. Jadi anda tidak perlu khawatir bakal menjadi sasaran orang-orang cabul.

Di Jepang, tempat pemandian merupakan tempat favorit untuk bersantai sambil bercengkerama. Pasalnya sebagai negara bersuhu dingin dengan rutinitas dan tekanan hidup yang tinggi, warga Jepang bisa melarikan diri sejenak dari semua hal tadi saat bersantai di pemandian air panas.

Menghindari Rumah Korban Bunuh Diri

Menghindari Rumah Korban Bunuh Diri
Menghindari Rumah Korban Bunuh Diri via kompas.com

Mungkin ada di antara anda yang pernah mendengar bahwa saat kehidupan semakin modern, maka takhyul akan ditinggalkan dengan sendirinya. Pasalnya kemajuan iptek menyebabkan hal-hal yang tadinya bersifat gaib kini memiliki penjelasan ilmiahnya.

Namun benarkah kondisinya bakal selalu demikian? Jika kita melihat Jepang yang notabene merupakan salah satu negara paling maju di dunia, ternyata takhyul dan keyakinan akan hal gaib masih memiliki pengaruh kuat di negara tersebut.

Jepang memiliki angka bunuh diri yang amat tinggi sebagai akibat dari tingginya beban hidup di Jepang. Tidak jarang pelaku bunuh diri di Jepang menggunakan rumah atau kamar apartemennya sendiri sebagai tempat untuk mengakhiri hidupnya.

Jika kebetulan tidak ada orang lain yang menghuni rumah tersebut, maka rumah tersebut otomatis bakal menjadi rumah tak berpenghuni dan bisa dijual untuk ditempati oleh orang lain. Namun ternyata kelanjutannya tidak semudah itu.

Orang Jepang percaya kalau rumah yang pernah menjadi lokasi bunuh diri bakal dihuni oleh hantu dan memiliki nuansa angker. Kesan serupa juga muncul untuk rumah yang menjadi lokasi pembunuhan.

Akibatnya, rumah macam itu bakal sulit dijual dan cenderung dijauhi oleh calon pembeli. Sebagai jalan tengah, orang yang menjual rumah korban bunuh diri bakal menjual atau menyewakannya dengan harga yang jauh lebih rendah.

Memakan Hewan Hidup-Hidup

Memakan Hewan Hidup-Hidup
Memakan Hewan Hidup-Hidup via wikipedia.org

Jepang dikenal sebagai negara yang tergila-gila dengan hidangan berbahan ikan. Kebetulan Jepang memang merupakan negara kepulauan. Sebagai dampak dari tingginya minat orang Jepang akan ikan, kita dapat menemui aneka macam hidangan hasil olahan ikan dari negara tersebut.

Dari sekian banyak hidangan berbahan ikan yang berasal dari Jepang, salah satu yang tergolong ekstrim adalah ikizukuri. Secara harfiah, ikizukuri dalam bahasa Jepang berarti "disiapkan hidup-hidup".

Dan memang seperti itulah kondisi makanan ini. Ikan yang digunakan dalam ikizukuri disajikan dalam kondisi masih hidup dengan sirip yang masih bergerak-gerak!

Ikan yang disajikan untuk ikizukuri akan dibumbui dan badannya sedikit dicincang. Saat seseorang memakan ikizukuri, tidak jarang ikan tersebut terlihat masih menggerakkan sirip dan mulutnya.

Meskipun terlihat unik, ikizukuri juga dikritik sebagai bentuk kekejaman terhadap hewan karena hewannya dimakan dalam kondisi masih merasakan sakit. Itulah sebabnya di Jerman dan Australia, makanan ini dilarang untuk dihidangkan.

Sumber :
https://www.icebike.org/guide-japanese-bike-culture/
https://www.engadget.com/japan-digital-minister-no-more-floppy-disks-fax-machines-123207491.html
https://www.japan-guide.com/e/e2292_ryokan.html
https://www.insider.com/japan-stigmatized-properties-rent-buy-cheap-jiko-bukken-2022-7
https://alexkwa.com/the-art-of-ikizukuri/