PLARIUSMODIFIKASI101

Orang Eropa Zaman Dulu Kerap Menggunakan Obat Berbahan Mayat Manusia

Thursday, July 11, 2019
Kanibalisme adalah praktik memakan bagian tubuh dari makhluk sesama jenisnya. Jika kita mendengar kanibalisme pada manusia, maka umumnya kita akan langsung membayangkan praktik yang dilakukan oleh suku-suku terbelakang dan gila perang. Namun tahukah anda kalau kanibalisme sempat banyak digunakan sebagai metode penyembuhan penyakit oleh orang-orang Eropa hingga akhir abad ke-19?

Richard Baxter adalah seorang pria asal Inggris yang hidup pada abad ke-17. Suatu hari, pria yang sehari-harinya berprofesi sebagai penulis tersebut menderita penyakit yang tidak kunjung sembuh. Setiap kali ia batuk, batuknya bakal mengeluarkan darah. Rasa sakit kerap terasa dari bagian perut dan persendiannya. Ia juga kerap menderita sakit kepala yang mengganggu pekerjaannya.

Obat Berbahan Mayat Manusia
Kuliah anatomi abad ke-16 di London
Baxter sudah mencoba semua obat yang bisa ia dapatkan, namun tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Merasa tidak punya pilihan lagi, Baxter pun kemudian mencoba meminum obat yang terbuat dari organ tubuh manusia. Kendati terlihat mengerikan, ternyata Baxter tidak sendirian. Meminum obat yang dibuat dari bagian-bagian tubuh mayat manusia merupakan praktik yang cukup lumrah dilakukan di Eropa pada Abad Pertengahan.

Praktik meminum obat yang terbuat dari bagian tubuh manusia diketahui sudah dikenal sejak di Eropa pada abad pertama sesudah Masehi. Sahabat anehdidunia.com ketika seseorang terkena penyakit tertentu, maka dokter kadang-kadang akan menyarankan orang tersebut agar meminum darah dari gladiator yang baru meninggal.

Meskipun sudah dikenal dari masa Romawi Kuno, baru sejak abad ke-12, praktik ini mulai berlangsung secara luas di seantero Eropa. Seiring perkembangan zaman dan kian majunya ilmu pengetahuan, praktik menggunakan bagian tubuh manusia sebagai bahan obat secara berangsur-angsur ditinggalkan pada akhir abad ke-19.

Dari Manusia untuk Manusia

Paracelsus
Paracelsus
Menurut Richard Sugg yang pernah menulis buku mengenai praktik menggunakan bagian tubuh manusia sebagai bahan obat, suburnya praktik pengobatan berbasis kanibalisme tidak lepas dari keyakinan orang-orang pada masa itu. Menurut mereka, untuk menyembuhkan gangguan yang menimpa pada bagian tubuh tertentu, maka orang tersebut harus mengkonsumsi obat yang terbuat dari bagian tubuh manusia juga.

Keyakinan itu sendiri pertama kali dicetuskan oleh Paracelsus, seorang dokter yang pernah hidup di Swiss pada abad ke-16. Teori yang dicetuskan oleh Paracelsus tersebut kemudian dijadikan patokan oleh para dokter dan peramu obat lain pada masa itu. Mereka beramai-ramai membuat obat dengan organ-organ tubuh manusia sebagai bahan bakunya.

Untuk menyembuhkan rambut rontok dan kebotakan misalnya, dokter akan membuat obat yang terbuat dari rambut dan disajikan dalam wujud ramuan atau bubuk. Sementara pendarahan disembuhkan dengan memakai lumut yang tumbuh pada tengkorak manusia. Kalau untuk mereka yang menderita gangguan penglihatan akibat penuaan, maka orang tersebut akan diminta mengoleskan campuran bubuk yang terbuat dari tinja manusia (huek!) pada bagian matanya.

Dalam perkembangannya, bukan hanya golongan rakyat biasa yang tertarik akan metode pengobatan ini. Kalangan raja bangsawan pun juga menunjukkan minatnya. Sahabat anehdidunia.com Raja Charles II yang bertahta di Inggris pada tahun 1660–1685 adalah salah satu di antaranya. Ia diketahui sangat gemar meminum ramuan obat yang terbuat dari tengkorak manusia. Saking populernya, ramuan tersebut sampai dikenal dengan nama “Tetesan Raja” (King’s Drops).

Metode pembuatan ramuan Tetesan Raja sendiri tergolong sederhana. Mula-mula, pembuat ramuan akan menyiapkan tengkorak manusian dan kemudian menumbuknya hingga halus seperti bubuk. Sesudah itu, bubuk tulang tadi dicampurkan dengan alkohol dan sudah siap untuk diminum.

Saat Charles sekarat di ranjangnya, dokter diketahui turut menyiapkan Tetesan Raja beserta ramuan obat lainnya untuk menyelamatkan nyawa raja. Namun usaha tersebut berakhir sia-sia karena Charles pada akhirnya harus meninggal dunia.

Meskipun begitu, popularitas ramuan obat Tetesan Raja tetap tidak surut. Hingga abad ke-18, ramuan ini tetap banyak dibuat untuk mengobati penyakit gangguan syaraf dan disentri (sejenis penyakit mirip diare yang disertai dengan darah). Ada juga yang mencampurkan Tetesan Raja dengan cokelat serta dedaunan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit seperti epilepsi, pendarahan, hingga mencegah kematian.

Dibuat dari Mumi

Obat Dibuat dari Mumi

Tetesan Raja hanyalah satu dari sekian banyak obat berbahan baku bagian tubuh manusia yang pernah dibuat di Eropa. Kendati obat-obat tersebut semuanya menggunakan bagian tubuh mayat sebagai bahan bakunya, tidak sembarang mayat bisa digunakan sebagai bahan baku. Pada awalnya, jasad mumi yang dijarah dan diimpor dari Mesir menjadi bahan baku pembuatan obat.

Namun karena mumi Mesir sendiri jumlahnya terbatas, mereka pun beralih menggunakan mayat dari daerahnya masing-masing. Karena membedah tubuh mayat dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap mayat yang bersangkutan, hanya mayat dari tahanan korban hukuman mati dan orang-orang miskin yang organ-organnya diambil supaya bisa diolah menjadi obat.

Di Inggris, Pulau Irlandia menjadi sumber utama mayat yang dimaksud. Selain digunakan di Inggris, tengkorak dari mayat orang-orang Irlandia juga diekspor hingga ke Jerman. Ada juga kasus di mana mayat korban perang dimanfaatkan menjadi bahan pembuat obat. Sahabat anehdidunia.com dari sekian banyak bagian tubuh yang digunakan untuk bahan obat, tengkorak yang diolah menjadi bubuk merupakan obat berbahan manusia yang paling banyak dicari di Inggris pada awal era modern.

Supaya mayat yang didapatnya tidak membusuk secara sia-sia, para dokter selalu mengusahakan agar setiap bagian tubuh dari mayat bisa dimanfaatkan menjadi obat. Kuku, tengkotak, dan jantung yang sudah dikeringkan dipercaya bisa menyembuhkan epilepsi. Lemak tubuh yang sudah dicampurkan dengan kayu manis bisa digunakan sebagai obat rabies.

Darah yang diambil dari korban eksekusi tepat sesudah kematiannya diyakini mengandung kekuatan penyembuhan yang besar. Air yang berasal dari peti mati konon bisa digunakan untuk menyembuhkan bisul. Sementara air yang digunakan untuk memandikan mayat konon bisa menjaga kesehatan jika sering-sering dikonsumsi.

Johann Schroeder – dokter asal Jerman yang hidup di abad ke-17 – dalam tulisannya menjelaskan bagaimana cara menyiapkan mayat supaya bisa digunakan sebagai bahan obat atau dijual lagi kepada yang membutuhkan. Menurut penjelasannya, mayat yang hendak disiapkan idealnya adalah mayat seorang pria berambut merah, berusia sekitar 24 tahun, dan meninggal akibat kecelakaan atau eksekusi mati. Pasalnya menurut Schroeder, orang macam itu kualitas daging dan organnya lebih baik.

Jika mayatnya sudah didapat, mayat tersebut selanjutnya harus dijemur seharian penuh. Sesudah itu, mayatnya akan dipotong-potong dan disiram memakai ramuan yang terbuat dari myrrh (sejenis kemenyan yang banyak digunakan di Eropa) serta daun tanaman aloe.

Sesudah itu, potongan mayat tersebut harus direndam dalam cairan anggur selama beberapa hari, dijemur selama 10 jam, direndam lagi ke dalam ramuan anggur, dan kemudian dijemur lagi hingga mengering. Schroeder menjelaskan bahwa dengan menggunakan metode penyiapan macam ini, potongan mayat tersebut tidak akan terasa amis saat disimpan.

Praktik pengobatan berbasis kanibalisme mulai ditinggalkan sejak permulaan abad ke-20 seiring dengan kian majunya pemahaman akan konsep penyakit dan tubuh manusia. Di masa kini, praktik menggunakan obat yang bahannya berasal dari bagian tubuh manusia memang sudah nyaris tidak dapat ditemukan lagi. Meskipun begitu, konsep menggunakan bagian tubuh manusia sebagai bagian dari metode penyembuhan masih tetap dapat ditemukan di masa kini.

Contoh paling mudah mengenai praktik tersebut adalah praktik donor darah supaya darah tersebut nantinya bisa disalurkan kepada orang lain yang membutuhkan. Contoh lainnya, orang yang sudah meninggal akan menyumbangkan organ-organ tubuhnya seperti hati, ginjal, hingga mata supaya bisa digunakan oleh orang lain yang organ tubuhnya sudah tidak bisa lagi berfungsi secara normal.

Sumber :
https://www.atlasobscura.com/articles/corpse-medicine


close