PLARIUSMODIFIKASI101

Cara Menakutkan Orang Zaman Dahulu Memperlakukan Mayat

Monday, February 10, 2020
Bagi banyak orang, kematian tidak dianggap sebagai akhir, melainkan awal dari kehidupan yang baru. Itulah sebabnya masing-masing peradaban dan kebudayaan memiliki caranya sendiri-sendiri dalam memperlakukan jasad seseorang yang sudah meninggal. Berikut ini adalah hal-hal yang dulu lazim dilakukan oleh orang-orang di berbagai belahan dunia kepada mereka yang sudah meninggal.

Menusuk Jantung Korban Bunuh Diri

korban ditusuk

Bagi banyak kebudayaan, bunuh diri dianggap sebagai tindakan yang hina. Hal serupa juga berlaku di Inggris pada masa lampau. Bahkan di negara tersebut, bunuh diri ditetapkan sebagai tindakan kriminal. Jika ada seorang pelaku bunuh diri yang tidak berhasil mengakhiri hidupnya sendiri, ia bakal diperlakukan layaknya penjahat.

Jika seseorang berhasil melakukan bunuh diri hingga tewas, harta benda miliknya akan disita oleh negara. Oleh karena itulah, jika seorang keluarga mengetahui kalau anggotanya ada yang tewas akibat bunuh diri, mereka akan menutup-nutupi penyebab asli kematian korban supaya mereka tetap bisa memiliki hak atas harta benda mendiang.

Salah satu alasan kenapa bunuh diri dianggap sebagai tindakan terlarang di Inggris adalah karena orang yang melakukan bunuh diri dipercaya tidak akan bisa bangkit kembali di kehidupan sesudah kematian. Sahabat anehdidunia.com atas pertimbangan tersebut, korban bunuh diri tidak diperbolehkan menjalani ritual penguburan sesuai dengan ajaran Kristen.

Masyarakat Inggris pada masa itu juga percaya bahwa jika seseorang meninggal akibat bunuh diri, maka arwahnya akan menghantui rumahnya. Maka, jika ada orang yang ketahuan tewas akibat bunuh diri, mayatnya akan dikuburkan di persimpangan jalan. Mereka percaya bahwa dengan melakukan ini, arwahnya tidak akan bisa kembali ke rumahnya dulu.

Namun perlakuan kepada mayat korban bunuh diri masih belum berhenti sampai di sana. Bagian jantung korban juga akan ditusuk dengan kayu supaya arwahnya tidak bisa bangkit. Ada juga korban bunuh diri yang mayatnya sengaja dikuburkan di tepi laut supaya arwahnya tidak bisa menghantui mereka yang masih hidup.

Mayat Bangsawan yang Meninggal di Luar Negaranya Bakal Dipotong-Potong

Mos Teutonicus, The Boiling Of King Henry VII In Tuscany

Banyak orang yang memiliki keinginan supaya bisa dimakamkan di tanah asalnya. Keinginan macam itu juga banyak dimiliki oleh kaum bangsawan di Abad Pertengahan. Namun kendalanya adalah teknologi transportasi pada masa itu masih belum semaju sekarang. Jadi ketika seorang bangsawan meninggal di tempat yang jauh dari negaranya, jasadnya bisa keburu membusuk sebelum tiba di kampung halamannya.

Mengawetkan mayat sebelum dikirim ke kampung halamannya lantas menjadi metode yang banyak digunakan. Untuk keperluan ini, mula-mula orang yang bertugas menangani mayat sang bangsawan akan mengeluarkan organ-organ dalam dari sang mayat dan kemudian menguburkan organ dalam tersebut di tempat ia meninggal.

Bagian lain dari tubuh sang mayat kemudian akan direndam dalam larutan cuka atau digarami. Sesudah itu, mayat tersebut akan diselimuti dengan kulit hewan dan diangkut ke kampung halamannya. 

Metode pengawetan ini sendiri tidak selalu berjalan manjur, terutama jika perjalanan menuju kampung halaman sang mendiang memakan waktu hingga berbulan-bulan. Tidak jarang ketika mayatnya sudah tiba di tempat tujuan, mayatnya sudah berada dalam kondisi rusak dan tidak bisa lagi dikenali.

Sebagai solusi atas kurang efektifnya metode pengawetan macam itu, dikembangkanlah metode pengawetan baru yang dikenal dengan istilah mos teutonicus. Dalam metode ini, mayat sang bangsawan akan dipotong-potong dan kemudian direndam dalam air mendidih. 

Proses ini menyebabkan daging dari sang jenazah terlepas dari tulangnya. Sesudah itu, tulang dari sang jenazah akan dikirim ke kampung halamannya, sementara dagingnya dikuburkan di tempatnya meninggal. Namun kadang-kadang bagian daging dari sang jenazah tetap dikirim ke kampung halamannya meskipun tidak ada jaminan daging tersebut akan sampai dalam kondisi tetap utuh.

Karena metodenya yang terkesan sadis, mos teutonicus memiliki citra yang kontroversial di kalangan umat Kristen Eropa. Paus Boniface VIII termasuk salah satu yang menentang mos teutonicus kendati kaum pemuka agama yang lain mendukung praktik ini.

Menara Pemakaman Kaum Zoroastrian

Towers of Silence.

Zoroastrian atau Majusi adalah nama dari agama kuno yang berasal dari kawasan Persia. Kaum awam yang tidak familiar dengan agama ini kerap menyalahartikan penganut Zoroastrian sebagai penyembah api karena agama ini banyak menggunakan api dalam ritual keagamaannya.

Zoroastrian juga memiliki cara pandangnya sendiri mengenai cara memperlakukan orang yang sudah meninggal. Di mata kaum Zoroastrian, seseorang yang sudah meninggal jasadnya sudah tidak lebih dari onggokan sampah yang mencemari dunia. Oleh karena itulah, jasadnya harus segera disingkirkan.

Karena kaum Zoroastrian melarang praktik membakar ataupun menguburkan mayat, mereka memiliki metode khusus untuk menghilangkan mayat hingga tidak bersisa. Sahabat anehdidunia.com kaum Zoroastrian akan membangun menara tinggi di mana mayat akan diletakkan di bagian puncaknya. Menara ini juga dikenal dengan sebutan Menara Kesunyian.

Karena tertarik akan bau busuk yang ditimbulkan oleh mayat, burung-burung bangkai akan berdatangan dan kemudian memakan mayat tadi hingga dagingnya habis tak bersisa. Yang tertinggal sekarang hanyalah onggokan tulang dari sang mayat.

Tulang belulang tersebut akan dijemur selama beberapa lama hingga benar-benar berada dalam kondisi kering. Setelah penjemuran selesai, tulang tersebut kemudian dihancurkan dan dibuang ke semacam sumur yang ada di tengah-tengah menara. 

Membakar Mayat untuk Memakan Abunya

Suku pribumi Yanomami

Praktik kremasi atau membakar mayat merupakan praktik yang sudah dilakukan di banyak peradaban sejak masa Sebelum Masehi. Saat Romawi masih berdiri, membakar mayat merupakan metode yang jamak digunakan oleh penduduk Eropa. 

Namun saat Kristen muncul menjadi agama baru yang dominan di Eropa, praktik membakar mayat sempat ditinggalkan karena membakar mayat dianggap bakal menghalangi bangkitnya jiwa seseorang di kehidupan sesudah kematian.

Saat orang-orang Eropa mulai bermukim di Benua Amerika dan kelak mendirikan negara Amerika Serikat, pola pikir tersebut masih tetap banyak dianut oleh penduduk setempat. Namun saat jumlah mayat yang dimakamkan semakin banyak, praktik membakar mayat kembali dilirik karena sisa-sisa mayat yang bercampur dengan air tanah dianggap sebagai sumber penyakit yang berbahaya.

Suku pribumi Yanomami yang tinggal di pedalaman Hutan Amazon juga mengenal praktik membakar mayat. Namun apa yang membuat praktik kremasi mereka berbeda dari praktik kremasi peradaban-peradaban lainnya adalah setelah mayatnya terbakar hingga menjadi, mereka akan memakan abu tersebut.

Menurut kepercayaan orang Yanomami, jika seseorang meninggal jiwanya akan tertahan. Untuk membebaskan jiwa tersebut, maka abu dari sang mendiang harus dimakan oleh mereka yang masih hidup. Mereka juga percaya bahwa jika jiwa sang mendiang sudah bebas, jiwanya kemudian akan menjelma menjadi burung.

Walaupun terkesan menjijikan, suku Yanomami merasa kalau ritual ini harus dilakukan supaya jiwa dari sang mendiang tidak berada dalam kondisi terjebak selamanya. Dalam perang antar kelompok suku, adalah hal yang lumrah bagi suatu kelompok untuk membiarkan jasad lawannya berada dalam kondisi terlantar supaya jiwanya tidak akan bisa ke mana-mana.

referensi:
https://www.ancient-origins.net/history/staked-through-heart-and-buried-crossroads-profane-burial-suicides-008095
https://listverse.com/2014/11/06/10-creepy-facts-about-historical-burials/
http://tripfreakz.com/offthebeatenpath/endocannibals-of-yanomami-tribe



close