PLARIUSMODIFIKASI101

Fakta Suram Maut Hitam London, Wabah Penyakit yang Meneror Inggris

Tuesday, September 01, 2020
Wabah Besar London adalah sebutan untuk wabah penyakit pes yang melanda kota London pada tahun 1665 hingga 1666. Akibat wabah ini, antara 68.000 hingga lebih dari 100.000 orang dilaporkan kehilangan nyawanya. Saat wabah masih berlangsung, mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah dan di tepi jalan menjadi pemandangan yang amat sering ditemui. Selain hal-hal tersebut, berikut ini adalah 5 fakta lain seputar Wabah Maut Hitam London yang patut anda ketahui.

Wabah Besar London Disebabkan Oleh Penyakit yang Menyebar dari Asia
Black Death
Black Death via kompas.com
Menurut ilmuwan di masa kini, penyakit yang menimpa penduduk London dalam Wabah Besar adalah penyakit pes. Selain menimpa penduduk London di Inggris, penyakit ini juga menimpa jutaan orang di Eropa daratan dan dikenal sebagai wabah Maut Hitam (Black Death).

Istilah Maut Hitam sendiri diberikan berdasarkan gejala-gejala yang bakal dialami oleh korban. Tewas akibat penyakit pes merupakan pengalaman yang sama sekali tidak menyenangkan. Butuh waktu beberapa hari bagi seseorag untuk mengalami seluruh gejala yang lazimnya dialami oleh pengidap pes.

Pada awalnya, korban akan mengalami sakit kepala, mual, dan demam. Tidak jarang pasien mengalami kejang-kejang. Saat kondisinya semakin parah, muncul bisul-bisul di selangkangan, ketiak, dan leher korban. Sahabat anehdidunia.com bercak-bercak berwarna hitam juga bakal muncul di sekujur kulit korban. Itulah sebabnya penyakit ini lantas dikenal dengan sebutan Maut Hitam.

Wabah Maut Hitam diperkirakan pada awalnya muncul di Cina. Dari sana, wabah tersebut kemudian menyebar ke Eropa saat pasukan Mongol melontarkan mayat-mayat korban penyakit pes ke dalam kota pelabuhan Caffa. 

Saat orang-orang Eropa yang sedang berada di kota tersebut berlayar kembali ke negaranya, mereka tanpa sadar turut membawa bibit penyakit pes. Di Inggris sendiri, wabah ini pertama kali muncul pada tahun 1665 di kota London.

Akibat Wabah, Penduduk London Beramai-Ramai Mengungsi Keluar Negeri
Akibat Wabah, Penduduk London Beramai-Ramai Mengungsi Keluar Negeri
Penduduk London Beramai-Ramai Mengungsi Keluar Negeri via listverse.com
Pada masa-masa awal kemunculan wabah ini di Inggris, korban tewas sudah bermunculan. Namun pemerintah Inggris awalnya merahasiakan kemunculan wabah ini. Pasalnya sebagai negara maritim yang memiliki banyak partner dagang di luar negeri, Inggris tidak mau sektor perdagangannya ikut terganggu. 

Jika kabar mengenai wabah ini sampai menyebar luas, kapal-kapal dagang berbendera Inggris akan ditolak di mana-mana sehingga perekonomian Inggris akan terkena getahnya. Meskipun begitu, golongan menengah ke atas yang tinggal di London sudah mengetahui kabar mengenai wabah ini karena mereka memiliki relasi di Eropa.

Oleh karena itulah, saat wabah ini baru muncul, golongan kaya Inggris secara beramai-ramai langsung mengepak barang-barangnya dan pergi keluar negeri. Saat jumlah korban tewas akibat wabah ini semakin banyak, penduduk London yang tersisa akhirnya sadar kalau ada wabah penyakit besar yang sedang mencengkeram kota mereka.

Meskipun begitu, penduduk miskin London awalnya masih enggan untuk pindah keluar kota. Pasalnya mereka tidak mau mengambil resiko kehilangan pekerjaan atau tempat tinggalnya jika harus pergi meninggalkan London. Sahabat anehdidunia.com mereka juga tidak tahu harus tinggal di mana seandainya sudah berada di luar London. 

Meskipun begitu, saat jumlah korban tewas akibat wabah di London melonjak hingga ribuan orang per minggunya, warga miskin London akhirnya memutuskan kalau mereka harus pergi demi keselamatan mereka sendiri.

Namun masalah baru ternyata baru saja dimulai. Sejak bulan Juni 1665, pemerintah kota London melarang penduduk kota London meninggalkan kota. Mereka yang ingin keluar London harus membawa dokumen berisi informasi kalau mereka terbukti tidak sedang mengidap penyakit.

Saat pemerintah kota London memutuskan untuk menghentikan penerbitan surat izin tersebut, mereka yang ngotot ingin pergi lantas beralih ke jalur ilegal. Mereka terpaksa mengeluarkan uang yang tidak sedikit supaya bisa membeli dokumen palsu agar bisa pergi meninggalkan London.

Penderita Pes dan Keluarganya Dilarang Meninggalkan di Rumah
Penderita Pes dan Keluarganya Dilarang Meninggalkan di Rumah
Penderita Pes dan Keluarganya Dilarang Meninggalkan di Rumah via listverse.com
Di tempat-tempat yang menjadi lokasi munculnya wabah virus corona, beredar anjuran supaya penduduk setempat tidak keluar dari tempat tinggalnya. Bagi yang sakit, anjuran ini dimaksudkan agar penyakitnya tidak menyebar kepada mereka yang masih sehat.

Kebijakan macam itu juga diberlakukan oleh pemerintah kota London saat wabah pes masih menjangkiti kotanya. Saat seseorang diketahui menampakkan gejala-gejala pes, semua orang yang tinggal di rumah tersebut tidak diperbolehkan keluar dari rumahnya selama 40 hari berikutnya.

Supaya penduduk sekitar tahu kalau penghuni rumah tersebut sedang menderita penyakit pes, bagian luar rumah akan ditandai dengan gambar salib berwarna merah dan disertai dengan tulisan “Tuhan, ampunilah kami”.

Perintah tersebut tak pelak menuai kontroversi karena mereka yang tinggal serumah jadi beresiko ikut meninggal akibat tertular penyakitnya. Nathaniel Hodges adalah salah seorang dokter di masa Wabah Besar London yang menentang kebijakan ini. Namun karena ia tidak punya kedudukan untuk membatalkan kebijakan tersebut, kebijakan itu pun tetap dilakukan.

Ketakutan Hodges pada akhirnya benar-benar terbukti. Dalam salah satu kasus, suatu keluarga diperintahkan tetap berada di rumahnya selama 40 hari setelah pembantunya nampak memiliki bercak-bercak di kulit.

Kondisi pembantu tersebut pada akhirnya berangsur-angsur membaik. Tapi keluarga tempatnya bekerja tetap tidak diperbolehkan meninggalkan rumahnya. Sebagai akibatnya, kondisi kesehatan penghuni rumah tersebut secara berangsur-angsur menurun akibat harus tinggal secara terus menerus di dalam rumah yang berudara pengap. Sahabat anehdidunia.com mereka semua akhirnya terjangkit pes setelah salah seorang petugas yang memeriksa mereka tanpa sengaja menularkan penyakit pes kepada mereka.

Banyak Oknum Perawat yang Membunuh Pasiennya Sendiri
Banyak Oknum Perawat yang Membunuh Pasiennya Sendiri
Banyak Oknum Perawat yang Membunuh Pasiennya Sendiri via cnnindonesia.com
Banyaknya orang yang sakit akibat pes menyebabkan pemerintah kota merekrut perawat dalam jumlah besar untuk menangani para korban. Perawat-perawat itu sendiri banyak yang aslinya buta huruf dan tidak menerima upah yang memadai. Sebagai akibatnya, mereka pun beralih ke cara-cara yang tidak terpuj hanya supaya mereka bisa memperkaya diri mereka sendiri.

Saat seorang pasien sudah meninggal, sang perawat akan mencuri benda-benda berharga milik korban. Namun tindakan tersebut baru permulaannya saja. Tidak jarang pasien yang aslinya masih hidup akan dibuat semakin parah sakitnya supaya ia bisa segera merampas barang-barang berharga milik sang pasien.

Untuk tujuan yang terakhir, oknum perawat tersebut akan mengambil benda-benda yang bisa menularkan penyakit dan membubuhkannya pada pasien supaya kondisi kesehatannya memburuk. Pasien malang tersebut kemudian akan diangkut ke atas gerobak pengangkut mayat dan dimasukkan ke dalam liang kubur besar bersama dengan mayat-mayat korban wabah lainnya.

Banyak Kucing dan Anjing yang Dibantai Semasa Berlangsungnya Wabah
Banyak Kucing dan Anjing yang Dibantai Semasa pes
ilustrasi Banyak Kucing dan Anjing yang Dibantai Semasa wabah pes via blog.humansociety.org
Penyakit pes menyebar lewat perantaraan kutu yang hinggap pada tikus. Namun karena penduduk London pada masa itu masih belum mengetahui siklus penyebaran penyakit pes, mereka mengira kalau wabah pes disebarkan oleh kucing dan anjing.

Ironisnya, pemerintah kota London mempercayai rumor tersebut. Ia pun memerintahkan supaya semua kucing dan anjing yang ada di London untuk dibunuh. Sebanyak lebih dari 200 ribu kucing dan 40 ribu anjing dilaporkan tewas akibat kebijakan pembasmian ini.

Dampak dari pembasmian salah sasaran ini sudah bisa diduga. Karena kucing yang selama ini menjadi predator tikus sudah menghilang, perkembangan wabah ini pun menjadi semakin liar dan tak terkendali. Bahkan sekarang wabahnya sudah menyebar ke daerah-daerah di luar London seperti Yorkshire dan Eyam.

Sumber :
https://listverse.com/2017/02/15/10-horrors-of-the-great-plague-of-london/
https://www.historic-uk.com/HistoryUK/HistoryofEngland/The-Great-Plague/



close