Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Peristiwa di Dunia yang Hampir Memicu Perang Dunia III

Perang Dunia II mengajarkan kepada kita tentang dampak brutal perang. dimana perang yang melibatkan Jerman dan Jepang melawan Amerika Serikat dan sekutunya ini banyak membawa dampak buruk, seperti kematian 70 juta nyawa dan dimulainya perang dingin yang masih bisa kita rasakan sampai sekarang. Gesekan - gesekan berbagai kepentingan dua negara atau lebih pasca Perang Dunia II mau tidak mau seringkali akan membawa dunia pada Perang Dunia III. 

Yang terjadi seringkali gesekan antara kubu komunis yang diwakili Rusia dan sekutunya dengan NATO dengan Amerika Serikat sebagai pemimpinnya. Mulai dari krisis misil di Kuba saat era Presiden Fidel Castro sampai terakhir kematian Jendral Iran Qasem Soleimani yang dilakukan oleh NATO.

1. Krisis rudal Kuba tahun 1962
Krisis rudal Kuba tahun 1962
 Krisis rudal Kuba tahun 1962 via reddit.com
Krisis ini terjadi saat tensi perang dingin antara Uni Soviet ( sekarang menjadi Rusia ) dengan Amerika Serikat. Dimana saat itu Amerika Serikat yang dipimpin oleh Jhon F Kennedy berupaya mengkudeta Kuba yang dipimpin Fidel Castro. Kudeta ini menggunakan para pelarian Kuba untuk melakukan invansi ke Kuba. Dengan cara para pelarian Kuba ini menyerang Kuba lewat jalur laut yang didukung serangan roket Amerika Serikat. Namun pelarian ini ketika sampai di pantai Kuba segera dihabisi oleh tentara Kuba. sebab Jhon F Kennedy tidak memberi bantuan marinir Amerika Serikat seperti yang dijanjikannya.

Kudeta oleh Amerika Serikat yang gagal ini dianggap serangan serius oleh Uni Soviet yang merupakan sekutu Kuba. Sehingga pemimpin Uni Soviet Nikita Khruschev menyatakan setiap serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat kepada Kuba dianggap tindakan perang. Kemudian Uni Soviet memasang rudal nuklir di Kuba yang mampu menghancurkan kota - kota di Amerika Serikat.

Tidak mau kalah Amerika Serikat menanggapinya dengan mengepung laut Kuba dan penempatan pesawat pengebom di Florida. Namun perang itu tidak terjadi kemudian kedua pihak menahan diri dimana Amerika Serikat berjanji tidak akan mengulang perbuatannya. serta melucuti rudal nuklirnya yang berada di Turki dan Itali. Sedangkan Uni Soviet menarik semua rudal nuklirnya yang ada di Kuba.

Ada kisah unik di dalamnya dimana saat itu seorang Kolonel Uni Soviet bernama Stanislav Petrov mencegah perang ini. Karena dia mendengar alarm lewat komputer yang menyatakan bahwa terjadi serangan rudal nuklir Amerika Serikat. Namun dia tidak mengindahkannya karena menganggap itu alarm palsu semata. Meskipun saat itu dia disalahkan ternyata keputusannya benar.

2. Krisis Suriah 2011
Krisis Suriah 2011
Krisis Suriah 2011 via matamatapolitik.com
Perang saudara di Suriah terjadi awal tahun 2011. Saat gelombang demonstrasi yang berujung pada pemberontakan di Suriah, dimana perang saudara ini masih berlangsung sampai sekarang. Perang ini terjadi antara Pemerintah Suriah yang dipimpin Presiden Bashar al - Asssad dibantu Rusia melawan kelompok pemberontak yang dibantu oleh Amerika Serikat.

Dalam perang saudara ini baik Rusia maupun Amerika Serikat memberi bantuan peralatan senjata semata tanpa mengerahkan pasukan reguler mereka. Dimana saat awal pertempuran pasukan pemberontak berhasil berhasil menguasai 40% wilayah Suriah namun sekarang keadaan berubah karena Pemerintah Suriah menekan keadaan. Karena Rusia memberi bantuan lebih dengan melakukan pengeboman strategis menggunakan pesawat jetnya. Dalam perang saudara ini terjadi pelanggaran HAM berat di kedua pihak. Salah satunya penggunaan bom kimia untuk mengalahkan musuh.

Pada awal - awal perang saudara ini banyak pihak mengira akan merembet pada Perang Dunia III. Karena semua pihak sama - sama keras dalam membantu sekutunya. Ditunjukkan Amerika Serikat meluncurkan 501 rudalnya. Namun ternyata pihak Rusia maupun Amerika Serikat tahu akan dampak buruknya. Sehingga pasukan Amerika Serikat tidak pernah mengebom markas Rusia di Suriah. Begitu pula Rusia tidak mau ambil resiko berhadap - hadapan dengan pasukan Amerika Serikat.

3. Kematian Jendral Iran Qasem Soleimani
Kematian Jendral Iran Qasem Soleimani
Kematian Jendral Iran Qasem Soleimani via dunia.tempo.co
Saat  Jendral Iran Qasem Soleimani melakukan konsolidasi kekuatan di Suriah untuk menghancurkan pasukan Amerika Serikat pada 3 September 2019, ternyata Amerika Serikat mengetahuinya kemudian saat iringan mobil  Jendral Iran Qasem Soleimani mengantarnya ke bandara Dasmakus Amerika Serikat segera mengirim drone pembawa misil. Akibatnya iring - iringan mobil pembawa  Jendral Iran Qasem Soleimani itu dibombardir dan alhasil jendral terbesar dari Iran itu tewas ditempat.

 Kematian  Jendral Iran Qasem Soleimani membuat pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei meradang. Diapun berjanji di hadapan kedua anak  Jendral Iran Qasem Soleimani untuk membalas kematian ayah mereka. Setelah itu Iran membalas dengan membombardir pangkalan Amerika Serikat di Irak. Dimana dalam serangan itu para tentara Amerika Serikat berlindung di dalam bunker. Namun serangan itu cukup berbahaya karena menyebabkan sebanyak 64 tentara cidera otak.

Serangan Iran atas kematian jendralnya ini diduga keras akan menimbulkan Perang Dunia III. Karena Iran sendiri mempunyai basis sekutu cukup banyak di Timur Tengah seperti Suriah, beberapa kelompok perjuangan lainnya dan yang tidak kalah penting adalah Rusia. Karena semenjak dahulu semenjak Iran dikuasai oleh Ayatollah Ali Khamenei selalu bermusuhan dengan Amerika Serikat. Dimana pihak Amerika Serikat mencurigai adanya senjata nuklir kemudian melakukan embargo ekonomi terhadap Iran.  Namun sepertinya Iran berusaha menahan diri dengan hanya menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Irak saja.

4. Krisis Suez
Krisis Suez
Krisis Suez via kaskus.co.id
Krisis Suez terjadi dari Oktober 1956 sampai Maret 1957. Sebelum merdeka penuh Mesir dikuasai oleh Inggris. Kemudian dibangunlah Terusan Suez oleh Inggris atas prakasa Insinyur Prancis bernama Ferdinand de Lesseps pada tahun 1869. Terusan ini mempunyai panjang 163 Km yang menghubungkan Laut Tengah dengan Laut Merah.

Fungsi dari Terusan Suez ini adalah untuk menghubungkan Eropa ke Asia tanpa harus mengelilingi Afrika.  Sehingga dapat menghemat waktu dan biaya tentunya. Oleh karena itu tidak heran setelah Mesir merdeka pada tahun 1922.  Terusan Zues tetap dianggap milik Inggris dan Prancis karena merasa mempunyai andil dalam pembangunanya.

Hingga pada tanggal 26 Juli 1956 saat Mesir dipimpin Presiden Gamal Abdul Nasir dia menasionalisasi Terusan Suez. Sebab memang secara fisik bangunan tersebut berada di wilayah Mesir. Pihak Inggris dan Prancis tidak terima kemudian menyatakan perang terhadap Mesir yang dibantu oleh Izrael. Dimana perang yang terjadi dari Oktober 1956 hingga Maret 1957 ini disebut dengan Krisis Suez ini secara militer Mesir kalah karena dihajar tiga negara.

Namun setelah Krisis Suez ini berakhir Terusan Suez dikembalikan kepada Mesir, karena diperkirakan akan terjadi Perang Dunia III. Sebab sekutu dari Mesir yakni Uni Soviet dan negara sosialis lainnya mengancam akan membantu Mesir merebut Terusan Suez, dengan cara meluncurkan roket - roket mereka ke Inggris, Prancis dan Izrael. Selain itu Mesir juga didukung negara Timur Tengah diantaranya Arab Saudi yang mengembargo minyak Inggris dan Prancis. Tentu bila Inggris dan Prancis tetap keras kepala mereka akan berhadapan dengan Uni Soviet dan negara sosialias lainnya. 

Sedangkan Amerika Serikat sendiri enggan membantu Inggris dan Prancis karena tentu akan babak belur juga. Sehingga untuk mmenghindari Perang Dunia III ini pihak Amerika Serikat menekan Inggris, Pranci dan Izrael untuk mundur dari Mesir. Akhirnya Inggris, Prancis dan Izrael meninggalkan Terusan Suez. Bahkan atas insiden itu Perdana Menteri Inggris Sir Anthony Eden mengundurkan diri.

Sumber 
https://www.liputan6.com/global/read/4168114/64-tentara-as-cedera-otak-karena-serangan-balasan-kematian-jenderal-iran
https://id.wikipedia.org/wiki/Krisis_Suez
https://id.wikipedia.org/wiki/Terusan_Suez
https://id.wikipedia.org/wiki/Krisis_Rudal_Kuba
https://id.wikipedia.org/wiki/Invasi_Teluk_Babi